Namsan Seoul Tower

Pokoknya semua foto semasa kunjungan singkat di pagi yang cerah ke Namsan Seoul Tower, Korea Selatan…  Februari 2018 lalu… Kenangan indah :)… Sebuah hadiah tak terduga dari Allah.. akankan ada kejutan lain tahun depan?

Foto semua hasil potretan kece my travelling partner Vely!

VKZ_4672VKZ_4719VKZ_4731VKZ_4765VKZ_4789

 

VKZ_4815VKZ_4827VKZ_4837VKZ_4870

Advertisements

Foto bersama Presiden Jokowi

Mengingat beberapa menit sebelumnya di dalam ruangan para peserta pada berebut selfie (termasuk saya haha), maka foto dengan penampakan begini beruntung banget. Nunggu di luar ternyata ga rame kayak di dalam.
.
Kirim ke Bapak Bariq nanya boleh upload ga 😁😁 hahaha, diijinkan haha asalkan pake caption acara apaan biar netijen ga heboh 😂. Bukan kampanyee yes. Ini kegembiraan ketemu orang penting. Rakyat jelata haha. Karena pernah foto ama Pangeran Charles ga boleh diupload di Sosmed, jadi kalo ama Presiden please yaa boleh 😁
.
FYI, Ini rejeki abis acara Pembukaan International Young Muslim Women Forum, dimana hampir 200 perempuan Muslim muda berkumpul dari Indonesia dan beberapa Negara lain seperti USA, Australia, Afghanistan, Somalia, Turkey, India dll.
.
Please jangan salfok ke dedek Paspampres di belakang😂😂
.
#IYMWF2018

From Nothing to Something : Belajar dari Gangwon

Pada Februari dan Maret lalu telah berlangsung Winter Olympic Games 2018 dilanjutkan Winter Paralympic Games 2018 di Korea Selatan. Lokasi persis penyelenggaraan iven ini adalah di Kota Pyongchang yang berkedudukan di Provinsi Gangwon, provinsi paling utara di Korea Selatan. Fakta bahwa Provinsi Gangwon menjadi tuan rumah salah satu kegiatan olahraga paling bergengsi di dunia menunjukan bahwa daerah ini merupakan wilayah yang sangat maju dan kuat terutama dari segi perekonomian.

Terdapat data yang menarik lainnya seperti disampaikan Prof. In Kyo Kim dari Gangjeung Wonju National University pada Asia Pasific Economic Cooperation Forum tanggal 13 Februari 2018 lalu di Kota Jeongseon, Korea Selatan. Provinsi Gangwon ini ternyata sebelum tahun 1980-an merupakan salah satu daerah terburuk dan tertinggal dalam pembangunan (the worst underdeveloped region in Korea), dan secara menakjubkan hari ini sudah menjadi pusat wisata di Korea (tourist spot for capital area population).

Seperti apakah Provinsi Gangwon dan apa pelajaran (lesson learned) yang bisa diambil untuk daerah kita? Berikut penjelasan dari informasi dan pengalaman yang penulis dapatkan selama mengikuti Local Economy Activation Training Course –sebuah pelatihan tentang aktivasi ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal- di Provinsi Gangwon, Korea Selatan pada pertengahan Februari lalu melalui beasiswa dari Intenational Urban Training Center (IUTC) South Korea dan UN Habitat.

Sekilas Provinsi Gangwon

Provinsi Gangwon dengan ibukota Chuncheon, berbatasan langsung di sebelah timur dengan Laut Timur (East Sea/Sea of Japan), serta sebelah barat dan selatan dengan provinsi lain di Korea Selatan. Batas utara adalah Garis Demarkasi Militer, yang memisahkannya dengan Provinsi Kangwon Korea Utara. Sebelum pembagian Korea pada tahun 1945, Gangwon dan Kangwon adalah sebuah provinsi tunggal.

Provinsi Gangwon berpenduduk 1,564,615 jiwa dengan luas wilayah 16,875 km2. Provinsi ini terkenal dengan produk pertaniannya, dan juga memiliki sumber daya mineral seperti besi dan batu bara. Sebelum tahun 1980-an Provinsi Gangwon hanya mengandalkan ekonominya dari kegiatan pertambangan yang kemudian nyaris menjadi daerah ‘mati’ seiring berkurangnya potensi tambah daerah terutama batu bara.

Posisi Gangwon sangat strategis untuk pengembangan wisata dimana sebelah timur membentang pantai dan sebelah barat berhadapan langsung dengan ibukota negara, Seoul. Sekitar 82% topografi Gangwon adalah daerah pegunungan. Potensi dan keindahan alam yang kaya dengan bermacam-macam atraksi wisata dikembangkan dengan sangat baik untuk setiap musim. Pegunungan di Provinsi Gangwon adalah pusat wisata musim dingin, menjadi surga ski yang dikunjungi jutaan pengunjung setiap tahun. Sedangkan di musim lainnya banyak taman nasional dan atraksi keluarga yang menjadi favorit wisatawan.

VKZ_3287.JPG

Salah satu sudut High 1 Resort, yang terkenal sebagai spot wisata di Gangwon

Pusat Ekonomi Baru di Timur Laut Asia

Provinsi Gangwon menjadi satu tujuan investasi utama Korea Selatan saat ini dengan zona investasi khususnya sesuai lokasi pada cluster yang telah ditetapkan. Gangwon menjadi tujuan investasi asing nomor satu di industri pariwisata yang memadukan rekreasi, layanan medis, tempat tinggal, bisnis, dan alam yang terintegrasi melalui suasana kota baru. Disamping itu juga terdapat daerah khusus untuk cluster bio indutry serta lokasi lokasi khusus yang ideal untuk investasi di industri budaya. Banyak inovasi baru di bidang pertanian yang dikembangkan secara luas dalam industri berbasis pertanian serta industri kosmetik yang menjadi andalan Negara Korea Selatan juga berada di Provinsi Gangwon. Dukungan posisi secara geografis yang berada di timur laut Asia juga menjadikan Gangwon pusat perdagangan utara yang menghubungkan negara-negara sekitar seperti Jepang, China dan Rusia.

Lesson Learned bagi Provinsi Sumatera Barat                               

Beberapa pelajaran yang bisa dipetik bersama dari Provinsi Gangwon untuk pembangunan daerah kita.

Pertama, optimalisasi sumberdaya lokal yang terintegrasi untuk peningkatan ekonomi daerah dan pendapatan masyarakat. Segala potensi dan sumber daya lokal yang ada dioptimalkan untuk peningkatan  nilai tambah, dan pendapatan masyarakat lokal yang diintegrasikan dengan aktivitas kepariwisataan. Sebagai contoh, saat kunjungan ke Rural Village Yongdae-Ri, sebuah desa wisata yang mengkombinasikan potensi lokal sebagai daerah penghasil produk perikanan dan pertanian (pengeringan ikan di saat musim dingin, dan budidaya jamur disaat musim panas), dan para pengunjung bisa merasakan pertukaran budaya lokal dengan pengalaman langsung membuat kue tradisional Korea yang bersumber dari bahan pangan lokal disana.

20180210_105532.jpg

Pengalaman Membuat Kue Beras

Kedua, penggunaan teknologi dalam setiap aktivitas ekonomi lokal. Yang sangat menonjol dalam setiap kunjungan lapangan yang dilakukan adalah, penerapan teknologi terkini yang relevan pada setiap lokasi. Misalnya, dengan potensi lokal pertanian dimana menghasilan bibit unggul berbagai produk hortikultura di Hoban Nursery Plant, hampir seluruh proses menggunakan teknologi budidaya yang sangat modern. Mulai dari kultur jaringan hingga fasilitas penunjang dan mesin-mesin yang memudahkan dan mempercepat proses produksi benih berkualitas, sampai pemanfaatan SDM lokal sebagai tenaga kerja khususnya perempuan.

VKZ_1625

Teknologi Pertanian di Hoban Nursery Plant

VKZ_1766

Pemberdayaan Tenaga Kerja Lokal di Hoban Nursery Plant

Ketiga, komitmen untuk pelestarian lingkungan. Tingginya kesadaran masyarakat dan pemerintah di Korea Selatan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menyelenggarakan proyek yang ramah lingkungan. Kunjungan lapangan ke Hongcheon Environment-Friendly Energy Town, yang merupakan pilot project   lokasi/kota kecil dapat menghasikan bio-energi. Disini, dihasilkan energi listrik dari biogas dan sampah organik secara massal, dimana dahulunya daerah ini justru banyak sekali sampah organik dan kotoran hewan yang terbuang percuma sehingga menyebabkan masyarakat enggan tinggal dan berdomilisi karena polusi bau. Sekarang lokasi ini menjadi salah satu percontohan di Korea Selatan.

VKZ_1120.JPG

Berpose di salah satu sudut di Hongcheon Environment-Friendly Energy Town

Keempat, kolaborasi bersama pemangku kepentingan untuk memajukan daerah. Di Provinsi Gangwon, pelaksanaan kerjasama multipihak antara akademisi (perguruan tinggi), pemerintah daerah dan dunia bisnis benar benar diterapkan secara berkelanjutan. Hasil riset terbaru dari perguruan tinggi secara komit difasilitasi pemerintah dengan investasi dari dunia bisnis. Sehingga mereka fokus pada strategi untuk berkoordinasi antar stakeholder dalam meningkatkan daya saing daerah. Terjadi hubungan yang sangat erat antara industri dan universitas dalam implementasi hasil-hasil riset secara massal.

Kelima, budaya/sikap mental positif : satu passion untuk memajukan daerah. Hal yang sangat berkesan sekali dalam setiap kunjungan lapangan, maupun disampaikan pada saat presentasi adalah sikap mental positif untuk maju bersama dan berkomitmen penuh untuk kemajuan daerah dari semua pemangku kepentingan yang ada. Ditambahkan bahwa mereka bersama sama membangun budaya menghargai bahwa setiap orang siapa saja bisa memberikan kontribusi terhadap pencapaian dan kesuksesan daerah. Meyakini bahwa apapun usaha adalah perjuangan hasil kerja bersama. Semua pihak selalu positif menghadapi tantangan, selalu berusaha mengembangkan diri dan meyakini prinsip tim kerja adalah berusaha bersama-sama meraih tujuan bersama. Mereka menerjemahkan TEAM sebagai Together Everyone Achieve More (bersama-sama setiap orang meraih lebih baik/banyak).

Penutup

Akhirnya, semoga pengalaman dari Provinsi Gangwon ini dapat mencerahkan kita semua siapa saja di Sumatera Barat, bahwa membangun daerah memerlukan fokus dan strategi yang tepat. Gangwon mengajarkan dengan sangat nyata bahwa sebuah provinsi yang nyaris “mati” karena kehabisan bahan tambang, dapat menjadi provinsi yang melejit secara ekonomi dengan optimalisasi sumber daya lokal. From nothing to something.

Yang perlu kita tingkatkan bersama di daerah kita, adalah meningkatkan kolaborasi multipihak (Pemerintah, Akademisi dan Swasta) secara berkelanjutan dan fokus pada inovasi berbasis potensi lokal, yang sebenarnya sudah dimulai namun masih terkendala pada tataran implementasi, dan komitmen membangun budaya positif yang menghargai kontribusi siapapun untuk berjuang bersama membangun daerah. Menepiskan berbagai bisikan kepentingan dan ego sektoral. Semoga. Mari kita berjuang bersama.*

Tulisan ini dimuat di Kolom Opini Harian Umum Singgalang tanggal 31 Maret 2018.

Pangan Sehat itu Murah dan Mudah

Mungkin anda pernah mendengar kalimat yang dipopulerkan oleh Hipokrates seorang Filsuf dari Yunani :  you are what you eat, kamu adalah apa yang kamu makan. Dengan begitu, sesungguhnya apapun yang kita makan mencerminkan seperti apa kita seharusnya, dan memahami apa tujuan kita makan juga merefleksikan apa jenis pangan sehat yang kita konsumsi.

Menurut DR. dr Tan Shot Yen, M.Hum, seorang pakar nutrisi, sesungguhnya tujuan manusia makan adalah untuk bertahan hidup. Tujuan ini yang tidak dipahami oleh banyak orang dengan pernyataan klise kalau ingin makan karena ingin sehat atau ingin  kenyang. Ketika kita paham bahwa tujuan utama kita makan dan mengkonsumsi pangan tersebut adalah untuk bertahan hidup, disaat yang sama kita akan penuh kesadaran mengkonsumsi pangan sehat yang sesuai kebutuhan tubuh, bukan keinginan selera semata.

Pangan sehat merupakan makanan yang di konsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang dalam tubuh. Gizi seimbang dimaksud mampu mencukupi kebutuhan makro nutrien tubuh meliputi karbohidrat, protein dan lemak. Konsumsi pangan sehat sangat berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup sehat itu sendiri. Kenapa? Karena ternyata banyak ragam penyakit tidak menular berkembang pesat disebabkan pola makan yang salah. Lantas, seperti apakah pangan sehat itu?

Menurut dr. Tan, jenis pangan gizi baik sehat itu adalah jenis makanan yang dikonsumsi dengan bentuk yang mirip dengan bentuk aslinya. Semakin dekat dengan bentuk asli di alam, semakin sehat! Kadang bisa dikonsumsi langsung secara segar, jika dibutuhkan dapat dimasak dengan tidak terlalu banyak proses. Jadi makanan sehat bukan sekedar bebas pengawet atau pewarna, bahkan semata mata bukan karena ada klaim organik, antioksidan, kaya serat bahkan no-sugar.

Salah satu yang sangat menghentakkan dari pernyataan Dr Tan adalah terkait jus/juice. Kita semua tahu selama ini juice dari buah-buahan sangat sehat sehingga dengan senang hati kita akan mengkonsumsinya untuk dapat memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral dalam tubuh. Jus juga menjadi lebih mudah dokonsumsi karena sudah dalam wadah gelas/botol. Tetapi ternyata mengkonsumsi jus kita mengingkari beberapa hal. Mengkhianiati ciptaan Tuhan memanfaatkan blender alami dari Tuhan bernama gigi 😁. Dan mengubah proses mencerna yang tadinya butuh 3-4 jam jika memakan buah asli, menjadi hanya beberapa menit karena sudah berubah tekstur. Ini akan menyebabka zat gula dari jus lebih cemat dicerna oleh dinding usus. Sungguh, karena dr Tan punya latar bekalang ilmu filsafat, segala yang disampaikan sangat masuk akal ya!

Lantas bagaimana konsumsi makanan atau pangan sehat yang dibutuhkan tubuh? Sesungguhnya panduan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementrian Kesehatan, adalah 50 %  Buah dan sayur, 25 % Karbohidrat, dan 25 % Protein. Terlihat pada gambar di bawah ini.

porsi-makan-2.jpg

Nah, tentu bertanya darimana mendapatkan seluruh kebutuhan sesuai porsi ideal diatas? Tidak perlu jauh jauh, semua pangan sehat itu artinya mudah dijangkau, pangan lokal yang sedari dahulu bisa kita temukan di pasar tradisional kita sangat bervariasi. Benar benar Mudah dan Murah!

Karbohidrat. Upayakan menghindari konsumsi beras putih berlebihan. Beras putih mengandung glikemik tinggi yang cepat menjadi gula darah. Sungguh banyak sumber karbohidrat lain, dan di Indonesia sendiri masih enggan mengakui kalau sayur dan buah juga bisa menjadi sumber karbohidrat. Jika sulit mengkonsumsi selain beras putih misalnya beras merah, bisa mencoba sumber karbohidrat lokal seperti ubi, kentang atau jagung.

Protein. Sumbernya banyak sekali, kacang-kacangan, tempe, telur, jamur, ikan dan seafood. Masaklah dengan enak dan AMAN. Menghindari minyak bukan berarti tidak bisa makan enak dan aman. Alternatif pepes, sop, soto, pesmol, bahkan kearifal lokal Minang memasak Pangek bisa jadi alternatif. Coba juga di bakar dan bungkus daun.

Buah dan Sayur. Tentu ini bukan sesuatu yang sulit bagi kita di Indonesia yang dianugerahi begitu banyak variasi buah dan sayuran lokal.  Gak perlu buah  impor untuk sehat kalau kita punya pepaya atau alpukat lokal.

Ingat ya Semakin dekat dengan bentuk asli di alam, minim proses yang merubah bentuk (apalagi menajdi produk pabrikan) dan  seluruh sumber pangan diatas harus mudah dijangkau ya, dengan itu dia akan menjadi murah.

Akhirnya, dr Tan ingin mengingatkan kita bahwa mengkonsumsi pangan sehat adalah tentang kebiasaan. Dan membiasakan hal hal baik itu memang sulit. Selalu harus dipaksakan. Maka, maukah kita memulai memaksakan diri mengkonsumsi yang tubuh kita butuhkan, bukan yang lidah kita sukai? Bismillah.. kita coba yuk..

*Tulisan ini disarikan dari presentasi DR dr Tan Shot Yen, M Hum pada Temu Blogger Kesehatan di Padang, 22 Maret 2018.

Amerika yang Berbeda di Salem yang Mempesona

Saya tak pernah membayangkan bisa menjejakkan kaki ke Tanah Amerika, tetapi juga tidak pernah membatasi diri untuk mencoba berbagai peluang yang ada.  Saat mendaftar di program #YSEALI ini, tentu saya punya motivasi dan impian tersendiri. Tentu program ini terlihat menarik, punya kesempatan tinggal lebih dari sebulan, pengalaman bekerja di instansi di Amerika, dan pastinya hidup dengan keluarga Amerika. Pertukaran budaya dan nilai-nilai dan pastinya pengetahuan dan pengalaman. Hampir semua pemburu beasiswa akan ngiler? kalau bukan karena beasiswa semacam ini, manalah mungkin pegawai negeri macam saya bisa melihat negeri jauh ini.

Nah lebih dari sekedar itu, ada rasa penasaran juga yang ingin saya cari jawabannya. Yaitu tentang Amerika yang selama ini saya ketahui, dari berbagai media, film-film Hollywood dan tentu saja lini masa media sosial yang sekarang membahana. Hampir sebagian besar informasi awal yang saya serap tentang negeri ini adalah, sebuah Negara adidaya yang sebegitu rupa majunya, masyarakat yang mandiri, gedung gedung tinggi. Belakangan, dengan pemberitaan terkait kebijakan pelarangan masuknya warga negara beberapa Negara Islam, saya menerima kecemasan beberapa sahabat dan kerabat terkait keberangkatan saya kesini. Selain asumsi saya pribadi, saya juga dititipi berbagai pertanyaan, penasaran ataupun kekhawatiran tentang penerimaan masyarakat Amerika pada pendatang dan khususnya muslim.

Hampir satu bulan disini, 3 minggu diantaranya saya habiskan di Kota Salem, sebuah kota kecil yang damai di Lembah Willamette, Negara Bagian Oregon. Saya harus merasa bersyukur ditempatkan disini, karena saya menjadi punya cara pandang yang berbeda tentang negeri ini. Lebih dari itu, saya jatuh cinta dengan kota kecil nan hijau ini. Kenapa? ini beberapa alasannya :

Masyarakat yang Ramah

Di Salem, kamu bisa dengan mudahnya memberikan senyum pada orang yang tidak dikenal sekalipun. Kata orang sini, itu agak jarang kalau di kota besar disini lo bahkan disebutkan di Portland aja kota terbesar masih di Oregon mungkin ga bias. Pernah minggu lalu saya berjalan sendiri ke downtown selepas kerja, karena  saya melihat peta dan penunjuk jalan di persimpangan, seorang wanita menghampiri saya dan menanyakan apakah saya membutuhkan bantuan arah jalan. Pengalaman lain adalah tentu saya saat tinggal bersama host family, saya merasa seperti di rumah sendiri, mau makan, mau masak mau ngapain aja silahkan. Beberapa kali saya minta maaf akan melakukan ini itu di rumah mereka, tetapi mereka pun balik bilang gak perlu minta maaf segala. Selama disini, me time saya adalah memasak makanan rumahan, selain rasanya lebih terukur dengan lidah saya, tentu bagian dari memperkenalkan budaya kuliner negeri kita. Dengan mengakali segala macam stok bahan yang ada, kreatifitaspun muncul haha. dan Hebatnya, selalu dipuji oleh host family saya,.  Masakan yang acakadut aja dibilang delicious. Setiap hari ada saja kata kata pujian terhadap apa yang saya lakukan. Mereka mengapresiasi sekecil apapun perbuatan kita.

Budaya Kerja yang Luar Biasa

Nah, ini yang masih bikin saya ternganga dari sekarang. Ya Allah, jauh bangeet.. bisakah yaa diterapkan di Indonesia, khususnya ditempat kerja saya..hahaha mulai dari diri sendiri kali ya.. yang penting niaat!!!

Soal rapat. Rapat disini yang super efektif dan on time… dibuka, trus perkenalan nama dan perwakilan apa. semua dihargai pendapatnya, gak pake dibedakan level yg ngomong staff atau pejabat. Bahan dan pembahasan rapat sudah diterima sebelumnya  via email atau diakses online. Gak pake biaya konsumsi, mau bawa makanan sendiri atau minuman sendiri monggo. rapat serius tapi ada becandanya. dan semua semangat ngasih ide buat kota tercinta.

Soal absensi/kehadiran,. hahahaha ini bagian paling saya suka. Kagak pake absen kakak! Mau absen manual kek, cap jari, foto wajah ataupun ceklok kertas… gak ada…Kata Host father saya.. disini kamu diperlakukan selayaknya adult (orang dewasa), yang bertanggung jawab dengan diri kamu sendiri. Jadi, semua bisa mandiri memanajemen waktunya asalkan kerjaan selesai sesuai bidang masing masing. Kadang ada yang datang telat, pulan cepat, gak masuk ahri jumat, namun juga gak masalah rapat ampe malam atau di hari sabtu. Uang lembur? hahaha GAK ADA!..  ga ada kerja yg dilakukan atas dasar uang semata (yaah walau gak semua, banyak juga ya didaerah kita kalau ga ada uang nya pada males wkwk.. hayo ngakuuu) .. kadang malah buat event luar kantor dengan masyarakat yang udah jadi tanggung jawab dia ngehandel, pada beli snack kecil sendiri pake uang pribadi pegawai nya….

Semua orang punya jobdesk yang jelas, ga ada yg semua dikerjakan satu orang trus tiba tiba ada juga yg ga dapat kerjaan wkwkw *dimana sih ini :p . disini semua punya kubikal sendiri, sistem komunikasi utama by email terintegrasi dengan kalender. saling mendukung, kalau gak ngerti nanya ke siapa yang ngerti, gak pelit ilmu. Saya yang sedang belajar ini itu nanya dulu dan biasa, org timur minta maaf dulu.. malah tetap sabar dijawab semua pertanyaan. Malah sekecil apapun kerjaan kita diapresiasi.. terharu.. jangan jangan orang disini konselor semua yaa hahahha *bagi yg ngerti pasti tahu haha

DSC_0624

Kubikal kerja saya

3. Pemandangan Hijau nan Indah

Waduh, seneng banget deh bisa di Salem, kota kecil ini.. ga ada gedung pencakar langit yang saya bayangkan tentang Amerika selama ini.. semua hijaaaau.. bangunan paling tinggi 5 lantai wkwk.. Salem penuh pohon pohon.. keluar sedikit Marion County itu penuh lahan pertanian, bunga bunga.. Cherry, hazelnut, Anggur, juga pohon natal dan bibit rumput.. so so beautiful..

Pemerintahan yang Melayani

Saya udah cerita kan di FB kalau Walikota dan City Council’s Member disini relawan.. dan kerennya, sangat mudah kamu kasih masukan.. banyak sarana public meetings, bisa kirim email aja, bisa dengan mudah ketemu di jalanan atau di pusat keramaian.. hangat dan bicara dengan santai.. ditambah lagi berbagai kebijakan pemerintah untuk memastikan masyarakat aman seperti multi family housing inspection atau building inspection yang saya ikuti bikin saya makin takjub..aah too good to be true..

semoga bermanfaat..

Menjadi Muslimah Indonesia di Amerika – Ibadah (2)

 

Kali ini saya mau sharing soal ibadah selama di Amerika, terutama soal sholat. Pertanyaan juga cukup sering muncul adalah bagaimana saya melaksanakan ibadah sholat disini. Sebagai informasi, saya tinggal di Kota Salem, Negara Bagian Oregon. Waktu shalatnya tentu berbeda dengan di Indonesia. Saat ini bulan May 2017, musim semi. Jadwalnya adalah : Subuh sekitar jam 4-an pagi, Zuhur sekitar jam 1-an siang, Ashar jam 5-an sore, Magrib jam 8-am malam dan Isya jam 10-an Malam.

a. Di Rumah

Selama dirumah host family, saya dapat sholat dengan mudah karena di Kamar sendiri dan ada kamar mandi juga di dalam, sehingga tidak kesulitan berwudhu harus keluar – masuk kamar. Alhamdulillah sekali.. ini memang dari awal sudah saya komunikasikan kalau saya akan suka bangun sangat pagi untuk sholat subuh, dan akan sangat private saat sholat, ditambah harus memakai jilbab sepanjang hari. Alhamdulillah waktu itu dijawab kalau saya akan punya kamar mandi sendiri dan berbeda lantai dengan kamar mereka jadi gak akan menganggu mereka di pagi hari kalau saya harus grasak grusuk wudhu hehhehe

b. Di kantor

Untuk ibadah selama di Kantor, saya minta ijin untuk mendapatkan space yg bersih dan bisa dipakai sholat. Intinya komunikasi yaa.. Alhamdulillah berkesempatan sholat selama di Kantor di salah satu ruangan rapat yang ada. Untuk berwudhu, saya memanfaatkan single restroom yg ada di divisi sebelah, restroom ini langsung ada wastafel, jadi saya bisa berwudhu tanpa terlihat ataupun menganggu yg lain dibandingkan dengan restroom bersama khusus wanita. Cuma kan restroom alias toilet sini super bersih dan kering ya ga kayak kita yg basah, jd pas wudhu kalau ada air yg tumpah saya bersihkan sendiri lagi agar pemakai berikutnya nyaman.

c. Masjid

Seperti saya pernah posting di FB sebelumnya, Mesjid di Salem hanya ada satu, namanya Masjid Assalam. Dan jangan bayangkan masjid yang berbentuk kubah, dan besar seperti di Indonesia ya. Mesjidnya hanyalah satu lantai di sebuah bangunan di utara kota Salem. Komunitas Muslim di Salem termasuk sedikit, dibandingkan dua kota lainnya yaitu Portland dan Eugene. Sehingga tidak heran juga memang mesjidnya tidak terlalu besar, termasuk space untuk jamaah muslimah. Alhamdulillah tetap disyukuri karena ada lokasi berkumpul bagi para muslim disini.

Menurut cerita Rebei, salah seorang bother muslim yang berkerja di divisi sebelah dan satu gedung dengan saya intership, di Portland , kota terbesar di Oregon,  ada 8 Mesjid . Sedangkan di Eugene juga banyak karena jumlah mahasiswa internasional disana. Mba Nawang, seorang teman YSEALI di Boston, mengunjungu masjid disana yang lumayan besar, mempunyai kubah dan terintegrasi dengan sekolah islam.

Demikian sharing sedikit soal ibadah sholat dan masjid.. intinya dikomunikasikan, tetap positif, dan yakin Allah SWT berikan kemudahan.

 

 

Menjadi Muslimah Indonesia di Amerika – Jilbab (1)

Saya pindahkan dari status FB ke sini ya.

Banyak yang menanyakan, apakah saya baik baik saya di sini. Sebagai muslimah, berjilbab dan datang dari Indonesia, tentu banyak yang peduli apakah di Amerika tidak mendapatkan masalah berarti? Bagaimana makan nya, bagaimana beribadah dan yang lebih sering ditanya bagaimana pakai jilbab/hijab disini... Saya share berdasar pengalaman saya sendiri.
Tentang jilbab, alhamdulillaaah tidak ada masalah. Sempat cemas dan peringatan beberapa kenalan soal susahnya masuk Amerika karena pakai jilbab. Apalagi baru baru ini ada kebijakan muslim ban dari beberapa negara. Saat masuk pertama kali di Bandara Denver, saya tidak merasakan masalah. Pemeriksaan ketat iya, scanning koper, dan pasti scanning orang nya di sebuat alat khusus, tapi itu untuk semua orang yang datang, gak cuma saya atau muslim saja. Saya ingat di Denver saat datang, ada bapak ibu pasangan sepertinya dari Tiongkok yang harus dibuka dan ditanyain kopernya namun ga bisa bahasa Inggris. Petugasnya cukup kesulitan. Sedangkan saya alhamdulillaaah lewat aja karena memang ga ada apa apa yang patut dicurigai. Disalah satu Bandara yang saya saya singgahi, -lupa dimana saking banyak transit (lebaay wkwkkw)-, malah ada satu Petugasnya berjilbab, saya lihat sekilas saat jalan dr pesawat ke terminal, sambil jalan itu malah sempat saling melempar senyum.
Bagaimana saat Tinggal di host family? Sedari awal hal ini yang saya Komunikasi pertama. Saya berjilbab. Jd akan memakai jilbab sepanjang hari. Mereka ga masalah, gak pernah nanya detail juga. Kecuali Teman baik sekota saya dari negara di Eropa sana pernah nanya dan penasaran bagaimana cara saya memakai jilbab, apakah tidak susah membuat. Dan Dia melihat ada banyak model juga ternyata. Terutama dia penasaran karena saya pagai bergo kalau di rumah. Malah jd seru kalau perempuan bahas “fashion” ya, saya jd jelasin model model jilbab haha.
Di Kantor tempat magang, sejauh ini saya mungkin satu satunya yg pakai jilbab, tapi gak sekalipun dijadikan bahasan, ga ditanya detail dll, karena semua orang sibuk dan fokus urusan masing masing, semua positif saja kalau saya menanyakan sesuatu dan diawal kedatangan kemarin sudah saya komunikasikan untuk minta waku buat Sholat dan space buat itu, semua diakomodasi.
Ini baru pengalaman 10 hari disini ya.. Semoga selalu positif begini.
S
elamat pagi dari Salem.  04 May 2017.

*Update, ini sudah memasuki minggu terakhir disini, Alhamdulillah baik baik saja. Berikut foto saya di acara International Potluck Dinner tanggal 16 Mei 2017 bersama teman-teman dari berbagai Negara.

DSC_1157

Indonesia-Ukraina-Georgia-Mesir-Bahrain/Somalia