Pengalaman Mengikuti Seleksi AIMEP 2019

Sudah lama sekali tidak update di blog ini.. yeaay… kali ini saya mau berbagi cerita pengalaman saya mengikuti seleksi Australia – Indonesia Muslim Exchange Program Tahun 2019 (AIMEP 2019). Alhamdulillah, setelah pengumuman awal Januari 2019 lalu, saya terpilih menjadi 1 dari 10 pemuda muslim Indonesia yang mendapatkan kesempatan perjalanan dan belajar selama dua minggu ke Australia Tahun 2019 ini.

logo_mep

Sedikit mengenang ke belakang, sebenarnya saya sudah tertarik dan pengeeen banget mendaftar untuk kegiatan ini sejak tahun 2011. Saya masih ingat membaca informasi seleksi program ini (maklum doyan berburu beasiswa hahaha)… namun selalu menyerah karena tidak yakin dengan kapasitas saya sebagai perwakilan ‘pemimpin muda muslim’. Apalagi sulit rasanya bagi saya yang tidak punya aktivitas  di organisasi keislaman saat itu. Saya melihat rekam jejak para delegasi yang lolos seleksi memang adalah tokoh-tokoh muda islam yang aktif di organisasi keislaman ternama, maupun tenaga pengajar di institusi keislaman.

Adalah Shaffira Hermana -gadis muda cerdas dan cantik yang saya kenal melalui program Young South East Asia Leadership Initiative – Professional Fellows Program (YSEALI-PFP) sebagai sesama #Profellows dari tema berbeda. Tahun 2018 lalu Fira lolos menjadi salah satu peserta AIMEP dan perjalanannya (yang saya kepo di medsos hahaha) selama program sangat menginspirasi. Saat Fira membagikan informasi pembukaan di WAG Alumni YSEALI PFP Spring 2017, saya turut membagikan ulang infor ini di jejaring saya. Namun tetiba saya terniat menyapa dan men-japri Fira dan mengutarakan  keberminatan saya namun di satu sisi ketidakpercayaan diri juga karena merasa beberapa persyaratan rasanya saya tidak memenuhi. Fira yang selalu positif memberikan semangat, “Uni bisa banget uni, kan aktivitasnya banyak”. Saat saya konsultasikan soal latar belakang organisasi keislaman saya, Fira memberi contoh dirinya yg secara organisasi tidak lah perwakilan organisasi khusus keislaman. Ahaa.. ini betul-betul penyemangat saya. Nyali berjuang saya langsung terpantik *wkwkwk

Bismillah, saya pun memulai mempersiapkan semua bahan aplikasi AIMEP 2019, tepat seminggu sebelum deadline. Fira menjadi mentor saya dalam penyusunan personal motivation statement. Di essay ini saya menuliskan kondisi saya secara jujur, lahir sebagai orang Minangkabau yang berprinsip Adat Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah, perjalanan aktif di kegiatan keagamaan semasa S1, pengalaman merasakan keragaman saat kuliah di Belanda, kesempatan ikut Mosaic International Summit di Inggris dan tentunya cerita menjadi YSEALI Profellow di Amerika (saya tonjolkan bahwa saya menjadi salah satu teman muslim pertama seorang kolega kantor dan hidup bersama keluarga Amerika yang berbeda agama), makin meyakinkan saya ingin menjadi  duta muslim muda yang ramah. Saya juga menyampaikan perjalanan saya aktif di organisasi sosal terkait ibu dan anak, serta perkenalan dengan jejaring baru organisasi MuhaMmadyah melalui Bapak Shofwan Karim.

Selain essay terkait motivasi mendaftar di program ini sebagaimana diatas, ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi, diantaranya adalah minimal satu (1) surat keterangan dari organisasi menjelaskan kedudukan  pelamar dalam organisasi  tersebut, untuk hal ini saya meminta rekomendasi dari Kepala Bappeda Provinsi Sumbar, Bapak Hansastri, sebagai atasan saya di kantor. Saya juga melampirkan dua (2) surat rekomendasi dari organisasi atau non organisasi yang mengenal saya secara pribadi dan menyatakan alasan bahwa saya adalah  kandidat yang tepat untuk mengikuti program ini . Untuk dua rekomendasi ini saya mendapat keberkahan dengan dukungan penuh dari Mba Nia Umar selaku Ketua Umum AIMI Pusat, organisasi dimana sekarang saya aktif sebagai Ketua AIMI Daerah Sumbar, dan juga dukungan rekomendasi dari Bapak Shofwan Karim selaku Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadyah Provinsi Sumatra Barat. Dukungan penuh dari ketiga orang ini memberikan kemudahan saya untuk terus melalui proses seleksi selanjutnya.  Terima kasih dan terberkahilah  mereka selalu.

Lengkapnya tentang syarat dan tata cara pendaftaran bisa cek tulisan teman saya sesama peserta AIMEP 2019 yang lolos seleksi ini Mas Zen di link ini.  Deadline aplikasi ini adalah 15 Oktober 2018 lalu. Pada pertengahan November 2019, saya mendapat informasi kalau saya lolos seleksi administrasi dan berkesempatan menjadi satu dari 25 peserta yang mengikuti wawancara di awal Desember 2018.

Pada tanggal 5 Desember sekitar jam 10.30 di Pascasarjana Universitas Paramadina menjadi tahapan penentuan bagi saya. Saya cukup deg-degan karena tidak bisa menduga apa kira kira pertanyaan yang akan diberikan. Saya meminta ijin dari kantor untuk mengikuti wawancara dan menyempatkan datang lebih dahulu semalam agar bisa mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Saya membaca pengalaman melalui blog para alumni AIMEP, dan bertanya pada semua Alumni AIMEP yang saya kenal. Makasih Fira mentor saya selama menyusun aplikasi, juga Mba Firoh, Mba Tara dan Mba Finna (saya kenal di kegiatan IYMWF 2018 oleh Fatayat NU), dan juga Mba Rita (yang saya kenal karena sempat nyaris kami berangkat di program Mosaic Tahun 2010 bersama). Dari mereka saya mendapatkan berbagai tips yang luar biasa membantu saya mempersiapkan diri dengan lebih baik. Tips semacam : tetap jujur dan menjadi diri sendiri, serta memperhatikan tujuan utama dari program ini agar jawaban selama wawancara selalu relevan menjadi  kunci saya melalui wawancara ini. Saya tidak lupa menghubungi lagi ketiga pemberi rekomendasi dan memohon doa dan dukungan mereka agar bisa melewati tahapan penentuan ini. Pastinya dukungan penuh dari Suami dan keluarga juga kunci saya siap menghadapi fase penentuan ini.

Saya menyiapkan berbagai peluang pertanyaan mulai dari latar belakang saya sebagai orang Minangkabau dan kondisi keislaman disini, pandangan terkait keragaman sampai apa yang saya inginkan jika mendapat kesempatan dan apa yang bisa saya sharing  selama wawancara. Saya terlalu cepat datang pagi itu, saat peserta yang harusnya pertama ikut datang terlambat saya sempat ditawarkan untuk maju dari jadwal, tapi tentu ini membuat deg-degan saya semakin besar sehingga saya tidak cukup berani menerima tawaran itu. Namun tidak lama peserta dimaksud datang dan selamatlah saya hahaha.

1f0ab0d1-b170-470b-96be-9dda2d8231f2

Berpose di depan ruangan wawacara, 5 Desember 2018

Ada tiga atau empat peserta yang diwawancara sebelum saya. Saya sempat berdiskusi dengan  beberapa peserta dan mereka sempat diberikan pertanyaan seputar kondisi terkini Indonesia saat itu pasca aksi 212 beberapa hari sebelumnya, sampai pada berbagai pandangan soal kondisi masyarakat muslim Indonesia. Salah satu peserta sebelum saya saya ingat yaitu mas Zen (yang link diatas saya share), cukup mengintimidasi saya karena gelak derai tawa terdengar hangat dari dalam ruangan. Ini kan bikin kita yang nunggu di luar minder juga.. sampai sepertinya seru sekali pembahasan didalam bersama pewawancara hahaha.

Sampai akhirnya, waktu wawancara saya akhirnya datang. Pewawancara berjumlah lima orang. Yaitu  Bapak Greg Fealy (Ketua Institut Australia-Indonesia, sekaligus akademisi Australis National University/ANU),  Ibu Virginia Hooker (Proffesor ANU sekaligus salah satu inisiator AIMEP), Bapak Rowan Gould (Manajer Program AIMEP), Mba Rita Pranawati (Wakil ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Alumni AIMEP), dan Pak Aan Rukmana (Dosen Universitas Paramadina dan alumni AIMEP).

Sesi wawancara saya dibuka oleh Pak Aan dan selanjutnya silih berganti para pewawancara mengajukan pertanyaan. Namun jalan proses wawancara benar-benar di luar dugaan saya. Saya menyebut ini benar-benar berkah dan keajaiban. Karena mereka langsung tertarik membahas aktivitas saya di dunia menyusui.

Ibu Virginia membagi pengalamannya menyusui anak anaknya sedari dulu dan dia tertarik dengan aktivitas saya. Saya ingat juga pernyataan Pak Rowan yang relatable banget deh karena istri nya juga relawan di Australia Breastfeeding Association (ABA), mirip dengan AIMI di Indonesia. Pembahasan dan pertanyaan mereka soal kenapa saya harus memperjuangkan menyusui dan bagaimana dari segi islam kemudian berkembang. Saya menjelaskan bahwa menyusui yang sudah menjadi perintah Allah tidak sekedar proses memberi makanan pada anak, juga lebih dari itu ada proses membangun bonding dengan ibu. Jadi proses menyusui tidak seharusnya juga dikaitkan dengan hal-hal tabu terkait pornografi karena fungsi payudara adalah untuk menyusui dan itu menentukan masa depan anak bangsa. Pak Greg langsung tertarik karena di Australia hal ini masih kontroversial bahkan pernah salah satu anggota parlemen Australia menjadi pembahasan public karena menyusui anaknya selama sidang parlemen. Saya langsung nyeletuk “oh iya Larissa Walter ya Pak”, saya lihat Bapak Greg cukup kaget saya tahu nama Larissa ini (hahaha semoga ga keGRan yah saya, syukurnya saya disuplai informasi ke-laktivis-an melalui jejaring AIMI) . Saya juga langsung memberi contoh AIMI melakukan kampanye dengan menyusui serentak di ikon-ikon kota di Indonesia Tahun 2016 lalu, bahkan AIMI Sumbar melakukannya di depan Mesjid Raya Sumbar. Pak Greg langsung bilang : “kamu harus membagi hal ini sama orang-orang Australia”.

Masih terkait menyusui sempat dibahas soal Donor ASI dalam Islam dan Mba Rita dari KPAI dan juga Aktivis Muhamadyah menjadikan isu yang saya bahas sangat relevan. Pak Aan juga sempat membahas apa dan bagaimana contoh saya akan membagikan pengalaman dan praktik baik yang saya dapat jika saya mendapat kesempatan belajar. Saya mengungkapkan jawaban tentang contoh project yang sudah saya lakukan pasca program YSEALI Tahun 2017, mencoba mempraktikan walau sedikit sesuai contoh yang bisa diterapkan. Di personal motivation statement saya juga saya ungkapkan beberapa rencana sharing pengalaman saya diantaranya melalui tulisan-tulisan dan berbagai forum.

Pertanyaan terakhir dari Pak Rowan yang sangat saya ingat sampai hari ini adalah pendapat saya tentang konservatisme. Untuk ini saya sangat berterima kasih pada Mba Lianita yang menjadi teman diskusi saya menjelang wawancara ini.  Kami banyak membahas soal keislaman dan dunia internasional serta konservatisme itu sendiri.

Untuk pertanyaan Pak Rowan, saya ingat memberi jawaban yang sangat sederhana, bahwa saya menyaksikan sendiri salah seorang teman saya menjadi dampak adanya perkembangan konservatisme dan mengarah pada dokrin dokrin radikalisme yang awalnya saya pikir tidak mungkin akan saya alami dari dekat. Apa yang bisa saya lakukan? Saya memberi contoh aktivitas saya di dunia pengasuhan melalui dukungan sesama orang tua yang setiap bulan rutin saya lakukan. Saya meyakini bahwa bibit-bibit berkembangnya faham konservatisme karena akar keluarga yang tidak kuat. Sehingga memastikan keluarga kita dan keluarga-keluarga di sekitar kita tidak mudah terpengaruh adalah tanggungjawab bersama. Pengasuhan adalah urusan bersama dan sebagai ibu saya ingin memastikan anak saya, teman teman anak saya dan anak anak dari teman saya memiliki fondasi yang kuat dan visi keluarga yang dibangun dari hubungan yang hangat dalam keluarga masing-masing dan komunikasi dalam lingkungan sekitar.

8c74f0b4-d8cb-48db-982c-2cc3ef91f22b.jpg

Berfoto di mural yang ada gambar Cak Nur dan kutipannya penuh semangat “tempat persemaian manusia baru”

Demikianlah proses wawancara yang masih saya ingat dan akhirnya pada 22 Januari lalu saya mendapatkan informasi kalau saya menjadi salah satu dari 10 peserta yang bersil lolos untuk AIMEP Tahun 2019 ini. Alhamdulillahirabbil’alamin, benar-benar akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya insya Allah. Saya sudah di-email tentang persiapan terkait request-request apa yang saya harap dapatkan atau temui selama di Australia. Masih panjang persiapan saya, karena saya dijadwalkan berangkat pada pertengahan Juni mendatang. Mohon doa dari semua ya agar persiapan dan perjalanan ini akan berlangsung sesuai rencana dan memberikan manfaat bagi Indonesia.

Insya Allah saya akan berbagai pengalaman ini nanti di blog ini.

Semoga tulisan bermanfaat ya!

Foto bersama Presiden Jokowi

Mengingat beberapa menit sebelumnya di dalam ruangan para peserta pada berebut selfie (termasuk saya haha), maka foto dengan penampakan begini beruntung banget. Nunggu di luar ternyata ga rame kayak di dalam.
.
Kirim ke Bapak Bariq nanya boleh upload ga 😁😁 hahaha, diijinkan haha asalkan pake caption acara apaan biar netijen ga heboh 😂. Bukan kampanyee yes. Ini kegembiraan ketemu orang penting. Rakyat jelata haha. Karena pernah foto ama Pangeran Charles ga boleh diupload di Sosmed, jadi kalo ama Presiden please yaa boleh 😁
.
FYI, Ini rejeki abis acara Pembukaan International Young Muslim Women Forum, dimana hampir 200 perempuan Muslim muda berkumpul dari Indonesia dan beberapa Negara lain seperti USA, Australia, Afghanistan, Somalia, Turkey, India dll.
.
Please jangan salfok ke dedek Paspampres di belakang😂😂
.
#IYMWF2018

From Nothing to Something : Belajar dari Gangwon

Pada Februari dan Maret lalu telah berlangsung Winter Olympic Games 2018 dilanjutkan Winter Paralympic Games 2018 di Korea Selatan. Lokasi persis penyelenggaraan iven ini adalah di Kota Pyongchang yang berkedudukan di Provinsi Gangwon, provinsi paling utara di Korea Selatan. Fakta bahwa Provinsi Gangwon menjadi tuan rumah salah satu kegiatan olahraga paling bergengsi di dunia menunjukan bahwa daerah ini merupakan wilayah yang sangat maju dan kuat terutama dari segi perekonomian.

Terdapat data yang menarik lainnya seperti disampaikan Prof. In Kyo Kim dari Gangjeung Wonju National University pada Asia Pasific Economic Cooperation Forum tanggal 13 Februari 2018 lalu di Kota Jeongseon, Korea Selatan. Provinsi Gangwon ini ternyata sebelum tahun 1980-an merupakan salah satu daerah terburuk dan tertinggal dalam pembangunan (the worst underdeveloped region in Korea), dan secara menakjubkan hari ini sudah menjadi pusat wisata di Korea (tourist spot for capital area population).

Seperti apakah Provinsi Gangwon dan apa pelajaran (lesson learned) yang bisa diambil untuk daerah kita? Berikut penjelasan dari informasi dan pengalaman yang penulis dapatkan selama mengikuti Local Economy Activation Training Course –sebuah pelatihan tentang aktivasi ekonomi daerah berbasis sumberdaya lokal- di Provinsi Gangwon, Korea Selatan pada pertengahan Februari lalu melalui beasiswa dari Intenational Urban Training Center (IUTC) South Korea dan UN Habitat.

Sekilas Provinsi Gangwon

Provinsi Gangwon dengan ibukota Chuncheon, berbatasan langsung di sebelah timur dengan Laut Timur (East Sea/Sea of Japan), serta sebelah barat dan selatan dengan provinsi lain di Korea Selatan. Batas utara adalah Garis Demarkasi Militer, yang memisahkannya dengan Provinsi Kangwon Korea Utara. Sebelum pembagian Korea pada tahun 1945, Gangwon dan Kangwon adalah sebuah provinsi tunggal.

Provinsi Gangwon berpenduduk 1,564,615 jiwa dengan luas wilayah 16,875 km2. Provinsi ini terkenal dengan produk pertaniannya, dan juga memiliki sumber daya mineral seperti besi dan batu bara. Sebelum tahun 1980-an Provinsi Gangwon hanya mengandalkan ekonominya dari kegiatan pertambangan yang kemudian nyaris menjadi daerah ‘mati’ seiring berkurangnya potensi tambah daerah terutama batu bara.

Posisi Gangwon sangat strategis untuk pengembangan wisata dimana sebelah timur membentang pantai dan sebelah barat berhadapan langsung dengan ibukota negara, Seoul. Sekitar 82% topografi Gangwon adalah daerah pegunungan. Potensi dan keindahan alam yang kaya dengan bermacam-macam atraksi wisata dikembangkan dengan sangat baik untuk setiap musim. Pegunungan di Provinsi Gangwon adalah pusat wisata musim dingin, menjadi surga ski yang dikunjungi jutaan pengunjung setiap tahun. Sedangkan di musim lainnya banyak taman nasional dan atraksi keluarga yang menjadi favorit wisatawan.

VKZ_3287.JPG

Salah satu sudut High 1 Resort, yang terkenal sebagai spot wisata di Gangwon

Pusat Ekonomi Baru di Timur Laut Asia

Provinsi Gangwon menjadi satu tujuan investasi utama Korea Selatan saat ini dengan zona investasi khususnya sesuai lokasi pada cluster yang telah ditetapkan. Gangwon menjadi tujuan investasi asing nomor satu di industri pariwisata yang memadukan rekreasi, layanan medis, tempat tinggal, bisnis, dan alam yang terintegrasi melalui suasana kota baru. Disamping itu juga terdapat daerah khusus untuk cluster bio indutry serta lokasi lokasi khusus yang ideal untuk investasi di industri budaya. Banyak inovasi baru di bidang pertanian yang dikembangkan secara luas dalam industri berbasis pertanian serta industri kosmetik yang menjadi andalan Negara Korea Selatan juga berada di Provinsi Gangwon. Dukungan posisi secara geografis yang berada di timur laut Asia juga menjadikan Gangwon pusat perdagangan utara yang menghubungkan negara-negara sekitar seperti Jepang, China dan Rusia.

Lesson Learned bagi Provinsi Sumatera Barat                               

Beberapa pelajaran yang bisa dipetik bersama dari Provinsi Gangwon untuk pembangunan daerah kita.

Pertama, optimalisasi sumberdaya lokal yang terintegrasi untuk peningkatan ekonomi daerah dan pendapatan masyarakat. Segala potensi dan sumber daya lokal yang ada dioptimalkan untuk peningkatan  nilai tambah, dan pendapatan masyarakat lokal yang diintegrasikan dengan aktivitas kepariwisataan. Sebagai contoh, saat kunjungan ke Rural Village Yongdae-Ri, sebuah desa wisata yang mengkombinasikan potensi lokal sebagai daerah penghasil produk perikanan dan pertanian (pengeringan ikan di saat musim dingin, dan budidaya jamur disaat musim panas), dan para pengunjung bisa merasakan pertukaran budaya lokal dengan pengalaman langsung membuat kue tradisional Korea yang bersumber dari bahan pangan lokal disana.

20180210_105532.jpg

Pengalaman Membuat Kue Beras

Kedua, penggunaan teknologi dalam setiap aktivitas ekonomi lokal. Yang sangat menonjol dalam setiap kunjungan lapangan yang dilakukan adalah, penerapan teknologi terkini yang relevan pada setiap lokasi. Misalnya, dengan potensi lokal pertanian dimana menghasilan bibit unggul berbagai produk hortikultura di Hoban Nursery Plant, hampir seluruh proses menggunakan teknologi budidaya yang sangat modern. Mulai dari kultur jaringan hingga fasilitas penunjang dan mesin-mesin yang memudahkan dan mempercepat proses produksi benih berkualitas, sampai pemanfaatan SDM lokal sebagai tenaga kerja khususnya perempuan.

VKZ_1625

Teknologi Pertanian di Hoban Nursery Plant

VKZ_1766

Pemberdayaan Tenaga Kerja Lokal di Hoban Nursery Plant

Ketiga, komitmen untuk pelestarian lingkungan. Tingginya kesadaran masyarakat dan pemerintah di Korea Selatan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menyelenggarakan proyek yang ramah lingkungan. Kunjungan lapangan ke Hongcheon Environment-Friendly Energy Town, yang merupakan pilot project   lokasi/kota kecil dapat menghasikan bio-energi. Disini, dihasilkan energi listrik dari biogas dan sampah organik secara massal, dimana dahulunya daerah ini justru banyak sekali sampah organik dan kotoran hewan yang terbuang percuma sehingga menyebabkan masyarakat enggan tinggal dan berdomilisi karena polusi bau. Sekarang lokasi ini menjadi salah satu percontohan di Korea Selatan.

VKZ_1120.JPG

Berpose di salah satu sudut di Hongcheon Environment-Friendly Energy Town

Keempat, kolaborasi bersama pemangku kepentingan untuk memajukan daerah. Di Provinsi Gangwon, pelaksanaan kerjasama multipihak antara akademisi (perguruan tinggi), pemerintah daerah dan dunia bisnis benar benar diterapkan secara berkelanjutan. Hasil riset terbaru dari perguruan tinggi secara komit difasilitasi pemerintah dengan investasi dari dunia bisnis. Sehingga mereka fokus pada strategi untuk berkoordinasi antar stakeholder dalam meningkatkan daya saing daerah. Terjadi hubungan yang sangat erat antara industri dan universitas dalam implementasi hasil-hasil riset secara massal.

Kelima, budaya/sikap mental positif : satu passion untuk memajukan daerah. Hal yang sangat berkesan sekali dalam setiap kunjungan lapangan, maupun disampaikan pada saat presentasi adalah sikap mental positif untuk maju bersama dan berkomitmen penuh untuk kemajuan daerah dari semua pemangku kepentingan yang ada. Ditambahkan bahwa mereka bersama sama membangun budaya menghargai bahwa setiap orang siapa saja bisa memberikan kontribusi terhadap pencapaian dan kesuksesan daerah. Meyakini bahwa apapun usaha adalah perjuangan hasil kerja bersama. Semua pihak selalu positif menghadapi tantangan, selalu berusaha mengembangkan diri dan meyakini prinsip tim kerja adalah berusaha bersama-sama meraih tujuan bersama. Mereka menerjemahkan TEAM sebagai Together Everyone Achieve More (bersama-sama setiap orang meraih lebih baik/banyak).

Penutup

Akhirnya, semoga pengalaman dari Provinsi Gangwon ini dapat mencerahkan kita semua siapa saja di Sumatera Barat, bahwa membangun daerah memerlukan fokus dan strategi yang tepat. Gangwon mengajarkan dengan sangat nyata bahwa sebuah provinsi yang nyaris “mati” karena kehabisan bahan tambang, dapat menjadi provinsi yang melejit secara ekonomi dengan optimalisasi sumber daya lokal. From nothing to something.

Yang perlu kita tingkatkan bersama di daerah kita, adalah meningkatkan kolaborasi multipihak (Pemerintah, Akademisi dan Swasta) secara berkelanjutan dan fokus pada inovasi berbasis potensi lokal, yang sebenarnya sudah dimulai namun masih terkendala pada tataran implementasi, dan komitmen membangun budaya positif yang menghargai kontribusi siapapun untuk berjuang bersama membangun daerah. Menepiskan berbagai bisikan kepentingan dan ego sektoral. Semoga. Mari kita berjuang bersama.*

Tulisan ini dimuat di Kolom Opini Harian Umum Singgalang tanggal 31 Maret 2018.

Pangan Sehat itu Murah dan Mudah

Mungkin anda pernah mendengar kalimat yang dipopulerkan oleh Hipokrates seorang Filsuf dari Yunani :  you are what you eat, kamu adalah apa yang kamu makan. Dengan begitu, sesungguhnya apapun yang kita makan mencerminkan seperti apa kita seharusnya, dan memahami apa tujuan kita makan juga merefleksikan apa jenis pangan sehat yang kita konsumsi.

Menurut DR. dr Tan Shot Yen, M.Hum, seorang pakar nutrisi, sesungguhnya tujuan manusia makan adalah untuk bertahan hidup. Tujuan ini yang tidak dipahami oleh banyak orang dengan pernyataan klise kalau ingin makan karena ingin sehat atau ingin  kenyang. Ketika kita paham bahwa tujuan utama kita makan dan mengkonsumsi pangan tersebut adalah untuk bertahan hidup, disaat yang sama kita akan penuh kesadaran mengkonsumsi pangan sehat yang sesuai kebutuhan tubuh, bukan keinginan selera semata.

Pangan sehat merupakan makanan yang di konsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang dalam tubuh. Gizi seimbang dimaksud mampu mencukupi kebutuhan makro nutrien tubuh meliputi karbohidrat, protein dan lemak. Konsumsi pangan sehat sangat berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup sehat itu sendiri. Kenapa? Karena ternyata banyak ragam penyakit tidak menular berkembang pesat disebabkan pola makan yang salah. Lantas, seperti apakah pangan sehat itu?

Menurut dr. Tan, jenis pangan gizi baik sehat itu adalah jenis makanan yang dikonsumsi dengan bentuk yang mirip dengan bentuk aslinya. Semakin dekat dengan bentuk asli di alam, semakin sehat! Kadang bisa dikonsumsi langsung secara segar, jika dibutuhkan dapat dimasak dengan tidak terlalu banyak proses. Jadi makanan sehat bukan sekedar bebas pengawet atau pewarna, bahkan semata mata bukan karena ada klaim organik, antioksidan, kaya serat bahkan no-sugar.

Salah satu yang sangat menghentakkan dari pernyataan Dr Tan adalah terkait jus/juice. Kita semua tahu selama ini juice dari buah-buahan sangat sehat sehingga dengan senang hati kita akan mengkonsumsinya untuk dapat memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral dalam tubuh. Jus juga menjadi lebih mudah dokonsumsi karena sudah dalam wadah gelas/botol. Tetapi ternyata mengkonsumsi jus kita mengingkari beberapa hal. Mengkhianiati ciptaan Tuhan memanfaatkan blender alami dari Tuhan bernama gigi 😁. Dan mengubah proses mencerna yang tadinya butuh 3-4 jam jika memakan buah asli, menjadi hanya beberapa menit karena sudah berubah tekstur. Ini akan menyebabka zat gula dari jus lebih cemat dicerna oleh dinding usus. Sungguh, karena dr Tan punya latar bekalang ilmu filsafat, segala yang disampaikan sangat masuk akal ya!

Lantas bagaimana konsumsi makanan atau pangan sehat yang dibutuhkan tubuh? Sesungguhnya panduan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementrian Kesehatan, adalah 50 %  Buah dan sayur, 25 % Karbohidrat, dan 25 % Protein. Terlihat pada gambar di bawah ini.

porsi-makan-2.jpg

Nah, tentu bertanya darimana mendapatkan seluruh kebutuhan sesuai porsi ideal diatas? Tidak perlu jauh jauh, semua pangan sehat itu artinya mudah dijangkau, pangan lokal yang sedari dahulu bisa kita temukan di pasar tradisional kita sangat bervariasi. Benar benar Mudah dan Murah!

Karbohidrat. Upayakan menghindari konsumsi beras putih berlebihan. Beras putih mengandung glikemik tinggi yang cepat menjadi gula darah. Sungguh banyak sumber karbohidrat lain, dan di Indonesia sendiri masih enggan mengakui kalau sayur dan buah juga bisa menjadi sumber karbohidrat. Jika sulit mengkonsumsi selain beras putih misalnya beras merah, bisa mencoba sumber karbohidrat lokal seperti ubi, kentang atau jagung.

Protein. Sumbernya banyak sekali, kacang-kacangan, tempe, telur, jamur, ikan dan seafood. Masaklah dengan enak dan AMAN. Menghindari minyak bukan berarti tidak bisa makan enak dan aman. Alternatif pepes, sop, soto, pesmol, bahkan kearifal lokal Minang memasak Pangek bisa jadi alternatif. Coba juga di bakar dan bungkus daun.

Buah dan Sayur. Tentu ini bukan sesuatu yang sulit bagi kita di Indonesia yang dianugerahi begitu banyak variasi buah dan sayuran lokal.  Gak perlu buah  impor untuk sehat kalau kita punya pepaya atau alpukat lokal.

Ingat ya Semakin dekat dengan bentuk asli di alam, minim proses yang merubah bentuk (apalagi menajdi produk pabrikan) dan  seluruh sumber pangan diatas harus mudah dijangkau ya, dengan itu dia akan menjadi murah.

Akhirnya, dr Tan ingin mengingatkan kita bahwa mengkonsumsi pangan sehat adalah tentang kebiasaan. Dan membiasakan hal hal baik itu memang sulit. Selalu harus dipaksakan. Maka, maukah kita memulai memaksakan diri mengkonsumsi yang tubuh kita butuhkan, bukan yang lidah kita sukai? Bismillah.. kita coba yuk..

*Tulisan ini disarikan dari presentasi DR dr Tan Shot Yen, M Hum pada Temu Blogger Kesehatan di Padang, 22 Maret 2018.

Amerika yang Berbeda di Salem yang Mempesona

Saya tak pernah membayangkan bisa menjejakkan kaki ke Tanah Amerika, tetapi juga tidak pernah membatasi diri untuk mencoba berbagai peluang yang ada.  Saat mendaftar di program #YSEALI ini, tentu saya punya motivasi dan impian tersendiri. Tentu program ini terlihat menarik, punya kesempatan tinggal lebih dari sebulan, pengalaman bekerja di instansi di Amerika, dan pastinya hidup dengan keluarga Amerika. Pertukaran budaya dan nilai-nilai dan pastinya pengetahuan dan pengalaman. Hampir semua pemburu beasiswa akan ngiler? kalau bukan karena beasiswa semacam ini, manalah mungkin pegawai negeri macam saya bisa melihat negeri jauh ini.

Nah lebih dari sekedar itu, ada rasa penasaran juga yang ingin saya cari jawabannya. Yaitu tentang Amerika yang selama ini saya ketahui, dari berbagai media, film-film Hollywood dan tentu saja lini masa media sosial yang sekarang membahana. Hampir sebagian besar informasi awal yang saya serap tentang negeri ini adalah, sebuah Negara adidaya yang sebegitu rupa majunya, masyarakat yang mandiri, gedung gedung tinggi. Belakangan, dengan pemberitaan terkait kebijakan pelarangan masuknya warga negara beberapa Negara Islam, saya menerima kecemasan beberapa sahabat dan kerabat terkait keberangkatan saya kesini. Selain asumsi saya pribadi, saya juga dititipi berbagai pertanyaan, penasaran ataupun kekhawatiran tentang penerimaan masyarakat Amerika pada pendatang dan khususnya muslim.

Hampir satu bulan disini, 3 minggu diantaranya saya habiskan di Kota Salem, sebuah kota kecil yang damai di Lembah Willamette, Negara Bagian Oregon. Saya harus merasa bersyukur ditempatkan disini, karena saya menjadi punya cara pandang yang berbeda tentang negeri ini. Lebih dari itu, saya jatuh cinta dengan kota kecil nan hijau ini. Kenapa? ini beberapa alasannya :

Masyarakat yang Ramah

Di Salem, kamu bisa dengan mudahnya memberikan senyum pada orang yang tidak dikenal sekalipun. Kata orang sini, itu agak jarang kalau di kota besar disini lo bahkan disebutkan di Portland aja kota terbesar masih di Oregon mungkin ga bias. Pernah minggu lalu saya berjalan sendiri ke downtown selepas kerja, karena  saya melihat peta dan penunjuk jalan di persimpangan, seorang wanita menghampiri saya dan menanyakan apakah saya membutuhkan bantuan arah jalan. Pengalaman lain adalah tentu saya saat tinggal bersama host family, saya merasa seperti di rumah sendiri, mau makan, mau masak mau ngapain aja silahkan. Beberapa kali saya minta maaf akan melakukan ini itu di rumah mereka, tetapi mereka pun balik bilang gak perlu minta maaf segala. Selama disini, me time saya adalah memasak makanan rumahan, selain rasanya lebih terukur dengan lidah saya, tentu bagian dari memperkenalkan budaya kuliner negeri kita. Dengan mengakali segala macam stok bahan yang ada, kreatifitaspun muncul haha. dan Hebatnya, selalu dipuji oleh host family saya,.  Masakan yang acakadut aja dibilang delicious. Setiap hari ada saja kata kata pujian terhadap apa yang saya lakukan. Mereka mengapresiasi sekecil apapun perbuatan kita.

Budaya Kerja yang Luar Biasa

Nah, ini yang masih bikin saya ternganga dari sekarang. Ya Allah, jauh bangeet.. bisakah yaa diterapkan di Indonesia, khususnya ditempat kerja saya..hahaha mulai dari diri sendiri kali ya.. yang penting niaat!!!

Soal rapat. Rapat disini yang super efektif dan on time… dibuka, trus perkenalan nama dan perwakilan apa. semua dihargai pendapatnya, gak pake dibedakan level yg ngomong staff atau pejabat. Bahan dan pembahasan rapat sudah diterima sebelumnya  via email atau diakses online. Gak pake biaya konsumsi, mau bawa makanan sendiri atau minuman sendiri monggo. rapat serius tapi ada becandanya. dan semua semangat ngasih ide buat kota tercinta.

Soal absensi/kehadiran,. hahahaha ini bagian paling saya suka. Kagak pake absen kakak! Mau absen manual kek, cap jari, foto wajah ataupun ceklok kertas… gak ada…Kata Host father saya.. disini kamu diperlakukan selayaknya adult (orang dewasa), yang bertanggung jawab dengan diri kamu sendiri. Jadi, semua bisa mandiri memanajemen waktunya asalkan kerjaan selesai sesuai bidang masing masing. Kadang ada yang datang telat, pulan cepat, gak masuk ahri jumat, namun juga gak masalah rapat ampe malam atau di hari sabtu. Uang lembur? hahaha GAK ADA!..  ga ada kerja yg dilakukan atas dasar uang semata (yaah walau gak semua, banyak juga ya didaerah kita kalau ga ada uang nya pada males wkwk.. hayo ngakuuu) .. kadang malah buat event luar kantor dengan masyarakat yang udah jadi tanggung jawab dia ngehandel, pada beli snack kecil sendiri pake uang pribadi pegawai nya….

Semua orang punya jobdesk yang jelas, ga ada yg semua dikerjakan satu orang trus tiba tiba ada juga yg ga dapat kerjaan wkwkw *dimana sih ini :p . disini semua punya kubikal sendiri, sistem komunikasi utama by email terintegrasi dengan kalender. saling mendukung, kalau gak ngerti nanya ke siapa yang ngerti, gak pelit ilmu. Saya yang sedang belajar ini itu nanya dulu dan biasa, org timur minta maaf dulu.. malah tetap sabar dijawab semua pertanyaan. Malah sekecil apapun kerjaan kita diapresiasi.. terharu.. jangan jangan orang disini konselor semua yaa hahahha *bagi yg ngerti pasti tahu haha

DSC_0624

Kubikal kerja saya

3. Pemandangan Hijau nan Indah

Waduh, seneng banget deh bisa di Salem, kota kecil ini.. ga ada gedung pencakar langit yang saya bayangkan tentang Amerika selama ini.. semua hijaaaau.. bangunan paling tinggi 5 lantai wkwk.. Salem penuh pohon pohon.. keluar sedikit Marion County itu penuh lahan pertanian, bunga bunga.. Cherry, hazelnut, Anggur, juga pohon natal dan bibit rumput.. so so beautiful..

Pemerintahan yang Melayani

Saya udah cerita kan di FB kalau Walikota dan City Council’s Member disini relawan.. dan kerennya, sangat mudah kamu kasih masukan.. banyak sarana public meetings, bisa kirim email aja, bisa dengan mudah ketemu di jalanan atau di pusat keramaian.. hangat dan bicara dengan santai.. ditambah lagi berbagai kebijakan pemerintah untuk memastikan masyarakat aman seperti multi family housing inspection atau building inspection yang saya ikuti bikin saya makin takjub..aah too good to be true..

semoga bermanfaat..

Menjadi Muslimah Indonesia di Amerika – Ibadah (2)

 

Kali ini saya mau sharing soal ibadah selama di Amerika, terutama soal sholat. Pertanyaan juga cukup sering muncul adalah bagaimana saya melaksanakan ibadah sholat disini. Sebagai informasi, saya tinggal di Kota Salem, Negara Bagian Oregon. Waktu shalatnya tentu berbeda dengan di Indonesia. Saat ini bulan May 2017, musim semi. Jadwalnya adalah : Subuh sekitar jam 4-an pagi, Zuhur sekitar jam 1-an siang, Ashar jam 5-an sore, Magrib jam 8-am malam dan Isya jam 10-an Malam.

a. Di Rumah

Selama dirumah host family, saya dapat sholat dengan mudah karena di Kamar sendiri dan ada kamar mandi juga di dalam, sehingga tidak kesulitan berwudhu harus keluar – masuk kamar. Alhamdulillah sekali.. ini memang dari awal sudah saya komunikasikan kalau saya akan suka bangun sangat pagi untuk sholat subuh, dan akan sangat private saat sholat, ditambah harus memakai jilbab sepanjang hari. Alhamdulillah waktu itu dijawab kalau saya akan punya kamar mandi sendiri dan berbeda lantai dengan kamar mereka jadi gak akan menganggu mereka di pagi hari kalau saya harus grasak grusuk wudhu hehhehe

b. Di kantor

Untuk ibadah selama di Kantor, saya minta ijin untuk mendapatkan space yg bersih dan bisa dipakai sholat. Intinya komunikasi yaa.. Alhamdulillah berkesempatan sholat selama di Kantor di salah satu ruangan rapat yang ada. Untuk berwudhu, saya memanfaatkan single restroom yg ada di divisi sebelah, restroom ini langsung ada wastafel, jadi saya bisa berwudhu tanpa terlihat ataupun menganggu yg lain dibandingkan dengan restroom bersama khusus wanita. Cuma kan restroom alias toilet sini super bersih dan kering ya ga kayak kita yg basah, jd pas wudhu kalau ada air yg tumpah saya bersihkan sendiri lagi agar pemakai berikutnya nyaman.

c. Masjid

Seperti saya pernah posting di FB sebelumnya, Mesjid di Salem hanya ada satu, namanya Masjid Assalam. Dan jangan bayangkan masjid yang berbentuk kubah, dan besar seperti di Indonesia ya. Mesjidnya hanyalah satu lantai di sebuah bangunan di utara kota Salem. Komunitas Muslim di Salem termasuk sedikit, dibandingkan dua kota lainnya yaitu Portland dan Eugene. Sehingga tidak heran juga memang mesjidnya tidak terlalu besar, termasuk space untuk jamaah muslimah. Alhamdulillah tetap disyukuri karena ada lokasi berkumpul bagi para muslim disini.

Menurut cerita Rebei, salah seorang bother muslim yang berkerja di divisi sebelah dan satu gedung dengan saya intership, di Portland , kota terbesar di Oregon,  ada 8 Mesjid . Sedangkan di Eugene juga banyak karena jumlah mahasiswa internasional disana. Mba Nawang, seorang teman YSEALI di Boston, mengunjungu masjid disana yang lumayan besar, mempunyai kubah dan terintegrasi dengan sekolah islam.

Demikian sharing sedikit soal ibadah sholat dan masjid.. intinya dikomunikasikan, tetap positif, dan yakin Allah SWT berikan kemudahan.