Amerika yang Berbeda di Salem yang Mempesona

Saya tak pernah membayangkan bisa menjejakkan kaki ke Tanah Amerika, tetapi juga tidak pernah membatasi diri untuk mencoba berbagai peluang yang ada.  Saat mendaftar di program #YSEALI ini, tentu saya punya motivasi dan impian tersendiri. Tentu program ini terlihat menarik, punya kesempatan tinggal lebih dari sebulan, pengalaman bekerja di instansi di Amerika, dan pastinya hidup dengan keluarga Amerika. Pertukaran budaya dan nilai-nilai dan pastinya pengetahuan dan pengalaman. Hampir semua pemburu beasiswa akan ngiler? kalau bukan karena beasiswa semacam ini, manalah mungkin pegawai negeri macam saya bisa melihat negeri jauh ini.

Nah lebih dari sekedar itu, ada rasa penasaran juga yang ingin saya cari jawabannya. Yaitu tentang Amerika yang selama ini saya ketahui, dari berbagai media, film-film Hollywood dan tentu saja lini masa media sosial yang sekarang membahana. Hampir sebagian besar informasi awal yang saya serap tentang negeri ini adalah, sebuah Negara adidaya yang sebegitu rupa majunya, masyarakat yang mandiri, gedung gedung tinggi. Belakangan, dengan pemberitaan terkait kebijakan pelarangan masuknya warga negara beberapa Negara Islam, saya menerima kecemasan beberapa sahabat dan kerabat terkait keberangkatan saya kesini. Selain asumsi saya pribadi, saya juga dititipi berbagai pertanyaan, penasaran ataupun kekhawatiran tentang penerimaan masyarakat Amerika pada pendatang dan khususnya muslim.

Hampir satu bulan disini, 3 minggu diantaranya saya habiskan di Kota Salem, sebuah kota kecil yang damai di Lembah Willamette, Negara Bagian Oregon. Saya harus merasa bersyukur ditempatkan disini, karena saya menjadi punya cara pandang yang berbeda tentang negeri ini. Lebih dari itu, saya jatuh cinta dengan kota kecil nan hijau ini. Kenapa? ini beberapa alasannya :

Masyarakat yang Ramah

Di Salem, kamu bisa dengan mudahnya memberikan senyum pada orang yang tidak dikenal sekalipun. Kata orang sini, itu agak jarang kalau di kota besar disini lo bahkan disebutkan di Portland aja kota terbesar masih di Oregon mungkin ga bias. Pernah minggu lalu saya berjalan sendiri ke downtown selepas kerja, karena  saya melihat peta dan penunjuk jalan di persimpangan, seorang wanita menghampiri saya dan menanyakan apakah saya membutuhkan bantuan arah jalan. Pengalaman lain adalah tentu saya saat tinggal bersama host family, saya merasa seperti di rumah sendiri, mau makan, mau masak mau ngapain aja silahkan. Beberapa kali saya minta maaf akan melakukan ini itu di rumah mereka, tetapi mereka pun balik bilang gak perlu minta maaf segala. Selama disini, me time saya adalah memasak makanan rumahan, selain rasanya lebih terukur dengan lidah saya, tentu bagian dari memperkenalkan budaya kuliner negeri kita. Dengan mengakali segala macam stok bahan yang ada, kreatifitaspun muncul haha. dan Hebatnya, selalu dipuji oleh host family saya,.  Masakan yang acakadut aja dibilang delicious. Setiap hari ada saja kata kata pujian terhadap apa yang saya lakukan. Mereka mengapresiasi sekecil apapun perbuatan kita.

Budaya Kerja yang Luar Biasa

Nah, ini yang masih bikin saya ternganga dari sekarang. Ya Allah, jauh bangeet.. bisakah yaa diterapkan di Indonesia, khususnya ditempat kerja saya..hahaha mulai dari diri sendiri kali ya.. yang penting niaat!!!

Soal rapat. Rapat disini yang super efektif dan on time… dibuka, trus perkenalan nama dan perwakilan apa. semua dihargai pendapatnya, gak pake dibedakan level yg ngomong staff atau pejabat. Bahan dan pembahasan rapat sudah diterima sebelumnya  via email atau diakses online. Gak pake biaya konsumsi, mau bawa makanan sendiri atau minuman sendiri monggo. rapat serius tapi ada becandanya. dan semua semangat ngasih ide buat kota tercinta.

Soal absensi/kehadiran,. hahahaha ini bagian paling saya suka. Kagak pake absen kakak! Mau absen manual kek, cap jari, foto wajah ataupun ceklok kertas… gak ada…Kata Host father saya.. disini kamu diperlakukan selayaknya adult (orang dewasa), yang bertanggung jawab dengan diri kamu sendiri. Jadi, semua bisa mandiri memanajemen waktunya asalkan kerjaan selesai sesuai bidang masing masing. Kadang ada yang datang telat, pulan cepat, gak masuk ahri jumat, namun juga gak masalah rapat ampe malam atau di hari sabtu. Uang lembur? hahaha GAK ADA!..  ga ada kerja yg dilakukan atas dasar uang semata (yaah walau gak semua, banyak juga ya didaerah kita kalau ga ada uang nya pada males wkwk.. hayo ngakuuu) .. kadang malah buat event luar kantor dengan masyarakat yang udah jadi tanggung jawab dia ngehandel, pada beli snack kecil sendiri pake uang pribadi pegawai nya….

Semua orang punya jobdesk yang jelas, ga ada yg semua dikerjakan satu orang trus tiba tiba ada juga yg ga dapat kerjaan wkwkw *dimana sih ini :p . disini semua punya kubikal sendiri, sistem komunikasi utama by email terintegrasi dengan kalender. saling mendukung, kalau gak ngerti nanya ke siapa yang ngerti, gak pelit ilmu. Saya yang sedang belajar ini itu nanya dulu dan biasa, org timur minta maaf dulu.. malah tetap sabar dijawab semua pertanyaan. Malah sekecil apapun kerjaan kita diapresiasi.. terharu.. jangan jangan orang disini konselor semua yaa hahahha *bagi yg ngerti pasti tahu haha

DSC_0624

Kubikal kerja saya

3. Pemandangan Hijau nan Indah

Waduh, seneng banget deh bisa di Salem, kota kecil ini.. ga ada gedung pencakar langit yang saya bayangkan tentang Amerika selama ini.. semua hijaaaau.. bangunan paling tinggi 5 lantai wkwk.. Salem penuh pohon pohon.. keluar sedikit Marion County itu penuh lahan pertanian, bunga bunga.. Cherry, hazelnut, Anggur, juga pohon natal dan bibit rumput.. so so beautiful..

Pemerintahan yang Melayani

Saya udah cerita kan di FB kalau Walikota dan City Council’s Member disini relawan.. dan kerennya, sangat mudah kamu kasih masukan.. banyak sarana public meetings, bisa kirim email aja, bisa dengan mudah ketemu di jalanan atau di pusat keramaian.. hangat dan bicara dengan santai.. ditambah lagi berbagai kebijakan pemerintah untuk memastikan masyarakat aman seperti multi family housing inspection atau building inspection yang saya ikuti bikin saya makin takjub..aah too good to be true..

semoga bermanfaat..

Advertisements

Menjadi Muslimah Indonesia di Amerika – Ibadah (2)

 

Kali ini saya mau sharing soal ibadah selama di Amerika, terutama soal sholat. Pertanyaan juga cukup sering muncul adalah bagaimana saya melaksanakan ibadah sholat disini. Sebagai informasi, saya tinggal di Kota Salem, Negara Bagian Oregon. Waktu shalatnya tentu berbeda dengan di Indonesia. Saat ini bulan May 2017, musim semi. Jadwalnya adalah : Subuh sekitar jam 4-an pagi, Zuhur sekitar jam 1-an siang, Ashar jam 5-an sore, Magrib jam 8-am malam dan Isya jam 10-an Malam.

a. Di Rumah

Selama dirumah host family, saya dapat sholat dengan mudah karena di Kamar sendiri dan ada kamar mandi juga di dalam, sehingga tidak kesulitan berwudhu harus keluar – masuk kamar. Alhamdulillah sekali.. ini memang dari awal sudah saya komunikasikan kalau saya akan suka bangun sangat pagi untuk sholat subuh, dan akan sangat private saat sholat, ditambah harus memakai jilbab sepanjang hari. Alhamdulillah waktu itu dijawab kalau saya akan punya kamar mandi sendiri dan berbeda lantai dengan kamar mereka jadi gak akan menganggu mereka di pagi hari kalau saya harus grasak grusuk wudhu hehhehe

b. Di kantor

Untuk ibadah selama di Kantor, saya minta ijin untuk mendapatkan space yg bersih dan bisa dipakai sholat. Intinya komunikasi yaa.. Alhamdulillah berkesempatan sholat selama di Kantor di salah satu ruangan rapat yang ada. Untuk berwudhu, saya memanfaatkan single restroom yg ada di divisi sebelah, restroom ini langsung ada wastafel, jadi saya bisa berwudhu tanpa terlihat ataupun menganggu yg lain dibandingkan dengan restroom bersama khusus wanita. Cuma kan restroom alias toilet sini super bersih dan kering ya ga kayak kita yg basah, jd pas wudhu kalau ada air yg tumpah saya bersihkan sendiri lagi agar pemakai berikutnya nyaman.

c. Masjid

Seperti saya pernah posting di FB sebelumnya, Mesjid di Salem hanya ada satu, namanya Masjid Assalam. Dan jangan bayangkan masjid yang berbentuk kubah, dan besar seperti di Indonesia ya. Mesjidnya hanyalah satu lantai di sebuah bangunan di utara kota Salem. Komunitas Muslim di Salem termasuk sedikit, dibandingkan dua kota lainnya yaitu Portland dan Eugene. Sehingga tidak heran juga memang mesjidnya tidak terlalu besar, termasuk space untuk jamaah muslimah. Alhamdulillah tetap disyukuri karena ada lokasi berkumpul bagi para muslim disini.

Menurut cerita Rebei, salah seorang bother muslim yang berkerja di divisi sebelah dan satu gedung dengan saya intership, di Portland , kota terbesar di Oregon,  ada 8 Mesjid . Sedangkan di Eugene juga banyak karena jumlah mahasiswa internasional disana. Mba Nawang, seorang teman YSEALI di Boston, mengunjungu masjid disana yang lumayan besar, mempunyai kubah dan terintegrasi dengan sekolah islam.

Demikian sharing sedikit soal ibadah sholat dan masjid.. intinya dikomunikasikan, tetap positif, dan yakin Allah SWT berikan kemudahan.

 

 

Menjadi Muslimah Indonesia di Amerika – Jilbab (1)

Saya pindahkan dari status FB ke sini ya.

Banyak yang menanyakan, apakah saya baik baik saya di sini. Sebagai muslimah, berjilbab dan datang dari Indonesia, tentu banyak yang peduli apakah di Amerika tidak mendapatkan masalah berarti? Bagaimana makan nya, bagaimana beribadah dan yang lebih sering ditanya bagaimana pakai jilbab/hijab disini... Saya share berdasar pengalaman saya sendiri.
Tentang jilbab, alhamdulillaaah tidak ada masalah. Sempat cemas dan peringatan beberapa kenalan soal susahnya masuk Amerika karena pakai jilbab. Apalagi baru baru ini ada kebijakan muslim ban dari beberapa negara. Saat masuk pertama kali di Bandara Denver, saya tidak merasakan masalah. Pemeriksaan ketat iya, scanning koper, dan pasti scanning orang nya di sebuat alat khusus, tapi itu untuk semua orang yang datang, gak cuma saya atau muslim saja. Saya ingat di Denver saat datang, ada bapak ibu pasangan sepertinya dari Tiongkok yang harus dibuka dan ditanyain kopernya namun ga bisa bahasa Inggris. Petugasnya cukup kesulitan. Sedangkan saya alhamdulillaaah lewat aja karena memang ga ada apa apa yang patut dicurigai. Disalah satu Bandara yang saya saya singgahi, -lupa dimana saking banyak transit (lebaay wkwkkw)-, malah ada satu Petugasnya berjilbab, saya lihat sekilas saat jalan dr pesawat ke terminal, sambil jalan itu malah sempat saling melempar senyum.
Bagaimana saat Tinggal di host family? Sedari awal hal ini yang saya Komunikasi pertama. Saya berjilbab. Jd akan memakai jilbab sepanjang hari. Mereka ga masalah, gak pernah nanya detail juga. Kecuali Teman baik sekota saya dari negara di Eropa sana pernah nanya dan penasaran bagaimana cara saya memakai jilbab, apakah tidak susah membuat. Dan Dia melihat ada banyak model juga ternyata. Terutama dia penasaran karena saya pagai bergo kalau di rumah. Malah jd seru kalau perempuan bahas “fashion” ya, saya jd jelasin model model jilbab haha.
Di Kantor tempat magang, sejauh ini saya mungkin satu satunya yg pakai jilbab, tapi gak sekalipun dijadikan bahasan, ga ditanya detail dll, karena semua orang sibuk dan fokus urusan masing masing, semua positif saja kalau saya menanyakan sesuatu dan diawal kedatangan kemarin sudah saya komunikasikan untuk minta waku buat Sholat dan space buat itu, semua diakomodasi.
Ini baru pengalaman 10 hari disini ya.. Semoga selalu positif begini.
S
elamat pagi dari Salem.  04 May 2017.

*Update, ini sudah memasuki minggu terakhir disini, Alhamdulillah baik baik saja. Berikut foto saya di acara International Potluck Dinner tanggal 16 Mei 2017 bersama teman-teman dari berbagai Negara.

DSC_1157

Indonesia-Ukraina-Georgia-Mesir-Bahrain/Somalia

Selangkah Lagi Menuju Mimpi

Akhirnya satu persatu persiapan untuk pergi selama 6 minggu mendatang mulai bisa di checklist OK. Seperti saya pernah ceritakan disini  , Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa untuk mengikuti pertukaran profesional di Amerika Serikat, mulai minggu depan.

Kesempatan mengikuti YSEALI PFP ini sungguh sangat berharga, saya akan magang disalah satu instansi disana yang relevan dengan bidang pekerjaan saya dan mendapat pengalaman  hidup dengan budaya lain yang pastinya akan seru..

Berikut beberapa list yang akhirnya bisa di-check OK 🙂

1  . Ijin Kantor

Hal ini jadi yang utama dan pertama sekali yang prioritaskan. Walaupun saya mengajukan aplikasi dengan dasar profesional sebagai ASN dengan aktivitas Perencana di Daerah, aplikasi ini saya ajukan saat masih berstatus kepegawaian di Pemkab Solok. Terhitung 01 April 2017, dan mulai aktif 10 April 2017 lalu, saya pindah tugas secara resmi ke Pemprov Sumbar. Alhamdulillah, niat baik insya Allah selalu dimudahkan. Sejak mulai lapor ke Pimpinan, saya juga menyampaikan perihal kelulusan ini. Sambutan pun sangat positif dan akhirnya saya bisa mengurus Ijin Persetujuan Gubenur dalam beberapa hari, dan sudah diijinkan untuk berangkat senin depan. Untuk ini saya dapat surat tugas pelatihan/pendidikan karena dalam rangka meningkatkan kapasitas juga sebagai ASN khususnya perencana. Yeaaay… Alhamdulillah, absensi aman untuk 6 minggu hehe

2. Ijin Cuti AIMI

Karena saya juga dapat amanah beraktivitas di AIMI, tentu masa 6 minggu bukan waktu yg singkat dan perlu pendelegasian wewenang dan supaya sistem organisasi tetap berjalan. Untuk itu saya mengajukan cuti resmi ke AIMI Pusat, karena akan tidak aktif selama fellowship. Walau AIMI adalah organisasi nirlaba dan sosial, namun saya merasa ini bagian dari bentuk profesionalitas juga dalam berogranisasi dan tanggungjawab moral agar kerja kerja AIMI Sumbar tidak terhambat. Tentu saja hal ini disambut baik juga oleh Mba MND di Pusat, komunikasi seperti ini penting dalam menjalankan organisasi apapun. Selama saya fellowship, AIMI Sumbar akan dipimpin Rani sebagai Plt dan Uni Evi untuk membantu Rani.

3. Visa dan Tiket

Salah satu hal penting untuk bisa melakukan perjalanan Luar Negeri adalah Visa. Alhamdulillah pengurusan sudah dilakukan sejak bulan Maret lalu dan karena kami mendapatkan visa khusus J1 dengan undangan pada program khusus juga, prosesnya tidak terlalu susah. Bahkan tiga hari setelah wawancara sudah bisa diperoleh.

Sedangkan untuk tiket keberangkatan juga sudah disampaikan oleh Pengelola Program Jaimie Holmes dari American Councils for International Education sejak minggu lalu. Saya akan berangkat dengan United Airlines via Narita dan Denver sebelum akhirnya sampai ke Washington DC. Wooowww.. ini pengalaman pertama saya naik United dan terbang ke arah Timur…

4. Host Family Arrival

Salah satu keistimewaan program YSEALI PFP ini adalah sebagian besar peserta akan ditempatkan bersama keluarga Amerika yang akan menjadi Host Family. Pasti seru ya melakukan pertukaran budaya dan merasakan langsung tinggal dengan American Family.  Saya pribadi hal ini akan menjadi pengalaman pertama. Dan untuk ini pun langsung dapat pengalaman dua keluarga sebagai Host. Karena Host utama saya sedang keluar kota saat saya datang nanti, maka saya akan tinggal sementara selama 5 hari dnegan Host Family fellows lain sesama penerima beasiswa PFP namun dari Negara Georgia. waah pasti seru yaa..  saya pun sudah saling berkontak dan sepertinya sangaat baik dan memberi banyak informasi relevan.

5. Host Family During Internship

Nah, host saya yang sebenarnya baru akan saya temui di hari kelima sampai di kota penempatan saya di Salem, Oregon. Yang bikin hepi dari beberapa kali kontak dengan mereka adalah, sangat welcome sekali kayaknya… saat ini juga sedang ada seorang mahasiswa dari Mesir yang sedang tinggal disana dan saya akan jumpai selama 2 minggu.. kayaknya seru yaa..  dan paling membahagiaan mereka bilang punya rice cooker hahhahaha.. untuk orang Indonesia yg doyan nasi ini ibarat oase ditengah padang pasir *halah hehhe Bapak Host saya seorang PhD dan kerja di Dinas PU gitulah di Salem, sedangkan Ibu Host saya seorang guru dan musisi di sekolah ballet disana.. waa pasti menyenagkan..

6. Worksite Information

Nah ini yang utamanya tujuan saya kesana. Saya akan magang di salah satu institusi di US yg relevan dengan aplikasi dan essay saya.. karena saya perencana di daerah dengan tema pilihan pembagunan ekonomi berbasis pertanian dan pariwisata.. uhuuyy.. saya ditempatkan di Salem, Ibukota Negara Bagian Oregon, namun bukan kota terbesar lho di Oregon… dan serunya ternyata ekonomi Salem digerakkan berbasis pertanian.. saya udah kontak supervisor saya disana, kayaknya Perencana Senior gitu dan udah dikasih gambaran kalau selama magang akan ikut beberapa meetings, ketemu berbagai stakholder termasuk rural planner dan tourism board nya.. waaah excited!

7. Volunteering Activities

Salah satu harapan bagi semua peserta PFP di tema Economic Empowerement ini adalah juga terlibat dalam kegiatan sosial atau menjadi relawan di berbagai komunitas di US. Kesempatan ini tentu tidak saya lewatkan untuk mulai mencari komunitas yang juga saya minati dan sesuai dengan passion saya di Indonesia. Saya mengontak La Leche League, organisasi pendukung ibu menyusui terbesar di dunia.  Saya coba ke LLL Salem Oregon, sayang sekali mereka sudah tidak aktif melaksanakan pertemuan selama beberapa bulan terakhir. Tidak menyerah sampai akhirnya saya ketemu LLL lain yaitu LLL Willamette Valley yang aktivitasnya tidak jauh dari Salem, Sayangnya beberapa pertemuan mereka di hari kerja yang mungkin sulit saya datangi. Senangnya Samantha, Leaders-nya sangat antusias dan akan berusaha menjadwalkan pertemuan dengan saya untuk sharing disalah satu hari di weekend selama May 2017.

Satu lagi komunitas yang berhasil saya kontak dan insya Allah akan saya bisa bergbung di pertemuannya adalah Mamaroo Babywearing. Surprisingly, salah satu pegiatnya adalah dari Babywering International. Semoga bisa jumpa dan belajar banyak nanti.

8. Muslim of Salem

Sebagai muslim, saya tak melewatkan kesempatan ntuk melihat bagaimana aktivitas muslim amerika disana. Tentu ini sebagai bagian dari upaya saya mempelajari kehidupan sehari hari disana, dan semoga nanti bs sharing bagaimana rasanya jd minoritas di AS. Hasil pencarian saya menemukan Page FB Muslim of Salem, alhamdulilah saat saya message responnya baik sekali. Bahkan adminnya bilang selamat datang di Salem, kota ini sangat ramah dengan muslim.  Saya diberitahu tentang masjid disana, alamat restoran halal, alamat toko daging halal dan juga toko ASIA disana hehhe (pengen beli bumbu indonesia wkwkw)… Bahkan katanya di bulan Mei ada Sister Meeting dan semoga saya bisa join..

Sekarang tinggal packing dan menyortir barang yang perlu dan tidak perlu dibawa, menukar beberapa rupiah ke dollar dan menyiapkan mental meninggalkan keluarga selama 6 minggu..

mohon doanya ya temans..

oh ya saya berencana akan sharing per-minggu pengalaman disana.. semoga kesampaian hehe

14563562_1811329532446079_8053109853707535232_n

 

Jatuh Cinta dengan Keluarga Kita

Memiliki anak memang menjadi sarana belajar terus menerus dan tidak pernah diduga duga prosesnya. Itu yang saya alami dengan anugerah seorang anak laki laki yang saat ini menjelang 5 tahun. Hampir sepanjang usia anak saya , saya menerapkan berbagai pola pengasuhan yang dipengaruhi oleh banyak hal, seperti pengalaman masa lalu dimana saya tanpa sadar pasti mencontoh bagaimana orang tua dan sekitar saya menerapkan pengasuhan , sampai mencoba-coba teknik pengasuhan yang saya baca dari berbagai buku, dan seminar parenting yang saya sempat ikuti. Sungguh, menjadi orang tua, bahkan cuma anak satu ini pun -tabik salut untuk mereka yang punya anak lebih banyak, super deh berarti sabarnya!-, sungguh tidaklah mudah. Semua teori parenting dan komentar sekitar tentang pengasuhan ibarat ombak dan angin yang membuat galau kapal berlayar *hihi pas gak ya ini analoginya, sedikit maksa haha

Nah, sekira dua tahun lalu, saat mencoba belajar ilmu menyusui karena pengalaman pada Bariq, saya bertemu dengan 24hr Parenting, seingat saya adalah sebuah page di FB berisi konten seperti poster dan artikel seputar pengasuhan. Beberapa sempat saya share dan save juga.. cuma karena belum menemukan tantangan berarti dalam pengasuhan karena anak saya yang masih bayi, ketertarikan saya mencari ilmu pengasuhan belum begitu besar. Ternyata kemudian, 24hr parenting menjelma menjadi Keluarga Kita. Makin kesini, page FB Keluarga Kita semakin menarik. Poster poster dengan tampilan khas yang menarik mata, serta isi materi yang pas dengan kebutuhan pengasuhan di sekitar kita.

12806012_1037430649662674_4597949131815166662_n.png

Keluarga Kita : Teman Seperjalanan Keluarga Indonesia (Sumber : Page FB Keluarga Kita)

Sampai akhirnya, pertengahan tahun lalu adalah puncak rasa penasaran saya akan ilmu pengasuhan. Saya mengikuti beberapa seminar terkait pengasuhan, makin belajar.. makin takut rasanya menghadapi dunia.. begitu berat peran orang tua di zaman sekarang, ditengah gempuran teknologi, perkembangan zaman dan tantangan lingkungan yang tidak bisa diduga.. setelah ikut seminar, seminggu dua minggu semangat membara untuk mencoba praktik ilmu baru, eh ternyata semua memudar seiring berjalannya waktu.. sambil tetap dihantui rasa takut dan bersalah dalam mengasuh karena berbagai informasi seminar yang saya pernah ikuti.. pengasuhan rasanya sesuatu yang tidak mudah..

Setelah itu, secara tidak sengaja d FB mata saya fokus membaca sebuah poster berjudul Kelas Kurikulum Disiplin Positif,  eh apa pula ini?? sepertinya menarik.. lalu saya japri lah CP disana, yang tak dinyata juga sudah pernah kontak karena satu organisasi beda daerah hahhaa.. yaitu Mba Olin.. makin dijelaskan Mba Olin, makin penasaran.. selama ini saya mencari support group di bidang pengasuhan yang bisa memberikan dukungan bekesinambungan. Saya selalu percaya, untuk aktivitas apapun kita butuh dukungan. Pengalaman saya bertemu AIMI dalam proses menyusui dahulu, sangatlah menguatkan hal ini. Sebelumnya sempat tertarik dengan sebuah kelompok pengasuhan juga, cuma entah kenapa saya merasa ada yang belum klop di hati. belum jodoh kali ya…

Akhirnya, setelah dahaga sekian lama tentang meerstode pengasuhan yang pas di hati saya, saya bertemu dengan Keluarga Kita. .. saya berkesempatan ikut Kelas Kurikulum Keluarga Kita (K4) Pertama dari 3 (tiga) Kelas Kurikulum Dasar di Keluarga Kita, yaitu Hubungan Reflektif, pada November 2016 lalu. Atas saran dari Mba Olin tadi saya memang memulai dari Hubungan Reflektif dulu.

Dan , ya kelanjutannya sudah diduga! Saya TERPESONA, saya TERSIHIR, dengan pemaparan Bu Najelaa Shihab pada K4 Hubungan Reflektif kala itu. Sangat berbeda dari sesi parenting yang selama ini saya ikuti, lebih aplikatif, tidak menuntut kesempurnaan namun tentu harus ada komitmen. Bagaimanakah bisa tetap komit? Ya dengan berbagi bersama orang tua lain, makanya ada rangkul atau relawan keluarga kita. Jadi disini juga ada mother to mother support, atau lebih luas lagi family to family support. Hmm dengan berbagi tentu ada kesempatan untuk sama sama belajar terus.

Alhamdulillah, sejak ikut itu banyak sekali hal yang menari di kepala saya hihi.. tapi saya merasa gak bisa sendirian.. harus ada yang sevisi pengasuhan di sekitar saya yang secara intens harus berinteraksi.. mendukung, memberi masukan positif dan sama sama mau berubah lebih baik..

Yess.. akhirnyaaa saya bisa ikut lagi K4 kedua tentang Disiplin Positif Bulan Februari 2017 ini….. waaw.. makin tersihiiiir…. Kelas disiplin positif memberi saya pelajaran berharga bahwa penting bagi kita sebagai orang tua untuk selalu sensitif kebutuhan anak dan memahami setiap tahapan perkembangan nya, sebelum memutuskan untuk menerapkan disiplin yang ingin kita capai. Selalu berefleksi dan memahami bahwa disiplin positif bukan soal tujuan orang tua dewasa saat ini saja, tetapi sesungguhnya tentang tujuan pengasuhan jangka panjang untuk membentuk karakter anak di masa depan…

dan senangnya di K4 Disiplin Positif ini saya sudah bersama dua teman lain dari Kota padang.. Uni Novi dan Pipit.. yang insya Allah sebagai langkah awal dukungan pengasuhan bagi kami sesama Rangkul di Padang.. senangnya langsung bisa ikut kelas fasitator Kelas Bicara Rangkul.. asyiikk.. berarti di Padang bisa adakan kelas rangkul di Padang juga.. (nantikan segera ya di akhir bulan Februari ini!)

apa sih Rangkul itu? sekilas yaa..  RANGKUL atau Relawan Keluarga Kita bertujuan untuk saling memberdayakan orang tua, sumber belajar sesama orang tua berbagai praktik pengasuhan, menciptakan suasana konsudif bagi orang tua lain untk leluasa belajar, dan saling berkolaborASI sesama orang tua dalam berbagai bentuk kegiatan positif. keren kan?

16583992_386551388371454_4147709437403987968_n (1).jpg

Dokumentasi Kelas Fasilitator Rangkul untuk Kami Rangkul Padang bersama Tim Keluarga Kita : Mba Gita dan Mba Andin. Seruuuu!

ahh pengen cubit  diri sendiri.. banyak sekali PR nya. Tapi kali ini saya yakin sudah ada sedikit jalan keluar.. saya gak akan sendirian., saya gak akan merasa benar sendiri, ataupun menyerah sendiri.. bismillah.. saya sudah jatuh cinta dengan keluarga kita, sudah merasa berjodoh, insya Allah.. selanjutnya akan terus bertumbuh bersama….

Bismilllahirahmanirrahim…

Jangan lupa mampir ke Web Keluarga Kita ya.. http://keluargakita.com/

dan jangan lupa Like Page FB nya buat update terbaru  https://www.facebook.com/keluargakitaid/

Sampai jumpa di Kelas Bicara Rangkul Perdana di Padang, segera!

 

Tentang Impian, Doa dan Jawaban Tuhan

Bismillah.. akhirnya bisa nulis di blog lagi haha..ini ups and down juga jadi bloggernya….

..mau mulai dari mana ya.. terlalu banyak hal yang ingin saya tulis. Kesempatan kali ini saya  akan berbagi sebuah kabar baik. Namun diawali cerita yang super panjang hahah sumpah! Ini panjang banget..

Sejak lama saya menasbihkan diri sebagi sorang pemimpi. Saya sangat percaya, sebesar atau sekecil apapun impian itu, akan menjadi ruh dan semangat untuk hari hari perjuangan mewujudkannya bersama idealisme yang kita punya.

Awalnya, sejak SMA saya sangat senang korespondensi, dan untuk zaman itu saya menulis banyak sekali surat ke Kedutaan Besar berbagai negara di Jakarta, dan sangat senang saat mendapat banyak brosur tentang negara mereka yang dikirim sebagai balasan *kalau sekarang mungkin ga ada lagi, bisa email saja untuk langganan newsletter, atau cukup follow akun atau page FB dan berjelajah di belantara internet ini sudah dapat kali ya * hehhe Percaya tidak dizaman itu saya menulis surat juga sampai ke negeri kerajaan Ingris Raya sana.. alias ke Pangeran William yang waktu itu muda merona wkwkkw.

Nah, cerita zaman putih abu abu itu belanjut dan saya simpan sebagai impian, semoga suatu hari bisa melihat dunia luas. Sampai akhirnya saya kuliah, dan sok sibuk dengan dunia mahasiwa serta (seolah olah) jadi aktivis  organisasi di kampus. Saya nyaris lupa, sampai di penghujung masa studi saya sekitar Tahun 2004 kalau tidak salah- saat dimana mulai pusing dengan skripsi-, saya menemukan dunia baru, belajar bahasa Jepang secara privat dengan seorang mahasiswi yang menurut saya sangat keren saat itu, agar dia tidak lupa ilmu nihongo nya waktu itu -karena baru balik dari student exchange di Jepang, dia membuka kelas Bahasa Jepang. (Senangnya sekarang berteman dengan Mahasiswi itu). Informasi ini saya dapat dari hobi saya membaca segala macam informasi di papan-papan pengumuman di sepanjang koridor kampus waktu itu. Itulah awal mula saya mulai memupuk impian lagi.. saya belajar satu dua kata, beberapa kalimat, cara menulis Hiragana dan Katakana, bahkan nekad ikut test kemampuan bahasa Jepang kala itu.. dan tentu dengan bermimpi tentang Jepang dari berbagai Dorama yang saya gemari saat itu *hahahaha.. ini juga yang mendorong saya menjadikan Jepang salah satu negara impian saya.. saya malah mencoba seingat saya dua kali aplikasi Beasiswa Jepang.. Alhamdulillah.. belum berhasil hehe.

Tetapi itulah hebatnya takdir Tuhan, selalu ada rencana lain yang tidak kita duga. Disaat menggalau sebagai pegawai negeri baru yang mulai jenuh dengan aktivitas dunia kePNSan yang waktu itu baru dijalani, saat masih gadis belia *uhuks* yang belum punya pikiran apa apa, dengan ajakan sahabat baik saya Dian, kami mencoba mengisi waktu kami agar lebih berdaya guna wkwkw.. dengan mengikuti kursus TOEFL di ITI Padang. Percayalah waktu itu saya ga begitu tahu apa ini diawalnya, mengulang belajar Bahasa Inggris yang waktu sekolah menengah begitu saya gemari, namun sedikit terlupa saat mahasiswa. Ternyata setelah test akhir nilai saya lumayan baik dan bisa syarat untuk daftar beasiswa luar negeri kala itu.

Saya membaca pengumuman tentang Beasiswa StuNed Tahun 2007  di Harian Singgalang kala itu, kemudian ada kontak Student Ambassadornya disana yang bisa dihubungi kalau ingin konsultansi. Bismillah, coba daftar aplikasi beasiswa ini, ke Belanda. Negeri di Eropa yang awalnya tidak masuk impian saya.

Pendaftaran StuNed waktu itupun masih manual, saya konsultasikan isian aplikasi saya dengan Ambassador-nya Stuned di Padang waktu itu, Yuhendra (Bang Hen), ke Kantornya di Jalan Veteran bersama teman baik yang waktu itu juga mengajukan aplikasi bersama. *sedih dibagian ini deh ingat salah seorang teman baik sesama pemimpi yang menghilang*

Bismillah, saya kirimkan aplikasi beasiswa StuNed waktu itu ke NESO Indonesia Jakarta. Cukup beruntung barangkali saya karena waktu itu ada program StuNed PreDeparture Program khusus untuk pelamar Luar Jawa dan 50 % Kuota untuk Perempuan. Alhamdulillah, lolos tahap pertama dan ada wawancara di Padang pada akhir 2007 waktu itu. Salah satu pewawancara itu Bang Hen tadi yang sempat saya jadikan konsultan saat menyiapkan aplikasi. Luar biasa ya, saya tidak menyangka ‘keberanian’ mencoba untuk mengontak Bang Hen sebelumnya yang tidak saya kenal untuk konsultasi aplikasi, justru sekarang bertemu lagi di sesi wawancara, saya merasa memberi sedikit kelegaan bagi saya, saat sesi wawancara karena tidak terlalu kagok karena sudah pernah bertemu sekali dengan salah satu interviewer. Seorang pewawancara lain adalah Mba Wiwin dari NESO Indonesia Jakarta. *hikmah bagian ini, jangan ragu dan malu bertanya dan mengontak mereka yang lebih ahli, kita tidak tahu kan kalau ternyata bisa bertemu lagi di kesempatan lain*

Lanjutlah saya dapat kabar gembira berikutnya kalau lolos aplikasi StuNed Pre Registration Program 2008 waktu itu. Namun karena nilai TOEFL saya sudah dinilai cukup untuk beasiswa, walaupun belum untuk kampus tujuan awal, saya termasuk yang tidak mendapat kesempatan untuk ikut English for Academic Purporse (EAP) Course yang dikhususkan bagi pelamar StuNed Pre Reg waktu itu. Cukup sedih juga karena saya merasa kemampuan Bahasa Inggis saya masih pas-pas san, walau Nilai TOEFL waktu itu sudah lolos batas minimal beasiswa. Saya harus jungkir balik *hehhe beneran deh bolak balik Padang -Solok* untuk les lagi dan belajar lagi agar Nilai TOEFL saya bisa naik lagi untuk kampus yang awalnya saya tuju.

Akhirnya, menjelang deadline memperoleh nilai TOEFL agar dapat admission letter dari kampus, saya tak kunjung bisa. Saya bahkan sudah dua kali bolak balik Jakarta agar bisa test TOEFL di NESO Jakarta. Masih belum bisaa.. sempat khawatir mungkin saya gak rejeki kalau gak kunjung bisa.. namun kemudian saya konsultasi lagi dengan Pihak NESO, waktu itu dengan Mba Ayu seingat saya, dan beliau menyarankan saya pindah ke kampus lain yang nilai TOEFL saya sesuai syarat beasiswa bisa diterima, tanpa harus mengulang Test lagi.. akhirnya saya daftar lagi di dua kampus berbeda di IHS Rotterdam dan IHE Deflt, Alhamdulillah yang ditunggu datang dan dapat dua admission letter. Setelah konsul lagi sana sini, saya memilih kampus Rotterdam, karena pertimbangan kabarnya cocok untuk yang kerja di Pemda kayak saya hahahaha dan saya lihat dari mata kuliah yang diajarkan, Kampus di Delft ini banyak belajar teknik dan matematika *alamaak pusing nanti haha..

Setelah dapat dan laporkan Admission Letter di IHS Rotterdam, saya masih harus ikut wawancara sekali lagi, kali ini langsung dengan Native dari Belanda yang ditunjuk NESO. Agak deg-degan lagi ahhaha.. langsung bahasa inggris gitu loo.. saya termasuk yg suka aneh logat English sayaa haha  –So Minang! wkkwkw tapi bismillah dan harus yakin.. dan yang penting konteks jawaban harus ngena! hehehe Alhamdulillaaaah.. Lolos akhirnyaaa semuanyaaa… dan jadilah saya terdampar setahun di Belanda untuk studi master tahun 2008-2009….  Cerita ini menjadi pembuka saya untuk selalu percaya bahwa selalu ada Jawaban tak terduga dari Tuhan untuk Impian dan Doa kitaa.. awalnya saya pengen ke Jepang, coba dua kali Gagal.. sekalinya daftar Ke Belanda.. alhamdulillah.. dan ternyata jauh di luar batas yang saya harapkan, saya bisa berkunjung ke berbagai negara lain di Eropa.. Subhanallah.. Benar benar keajaiban Allah, saya perempuan desa di pelosok Sumatera bisa menjelajah Eropa. Bayangkanlah.. betapa katronya saya kala itu .. *wkwkw

lanjutlah petualangan mimpi saya, setelah balik dan menyelesaikan studi di Belanda September 2009, sekira bulan Desember 2009, karena hobi berselancar di web web asing dan kedutaan, saya nemu informasi sekolah kepemimpinan musim panas di Inggris, namanya waktu itu Mosaic International Summit (Sekarang bernama International Leadership Progam). Karena semua aplikasi berbasis online, saya iseng nyoba lagi… ditengah kegalauan lagi karena kondisi masuk kerja dan mulai stress dengan dunia ke-pemda-an hahahha… tak dinyana, aplikasi saya mungkin menarik, dan lolos untuk wawancara by phone kala itu awal 2010… Allah menjawab doa dan kegalauan saya, dengan sebuah hadiah indah, Musim Panas di Inggris! Saaat pengumuman disampaikan saya gembira karena akan melewatkan dua minggu di Bulan Juli 2010 di dua kota keren di dunia : Cambridge dan London! Maka nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan.. Kesempatan ini malah  lebih dari yang saya bayangkan,kenyataannya tidak cuma dua kota tadi, karena saat field visit saya juga berkesempatan ke Liverpool dan Manchester (bahkan bisa masuk Old Traffod! ). Dan lebih dari sekedar itu, saya berkesempatan berjumpa dengan Prince of Wales , Pangeran Charles! *masih sedih belum bia upload foto ketemu Prince Charles ini. Hehe

dan… Bayangkan, surat balasan dari Pangeran William kala SMA saya bawa saat program ini lho hahahahhaha dan saking kagok nya saya ga jd pengen pamer ke Prince Charles soal surat balasan sang anak *yg sebenarnya isi surat biasa saja dan sangat standar* hahaha begitulah saya yg dari Pelosok Sumatera ini dianugerahi yang kayak begini saja sudah girang. Cerita soal ini silahkan cek di postingan link ini. https://riaoktorina.net/2016/06/02/different-colour-one-people-musim-panas-di-inggris-yang-menakjubkan/

Okeh lanjut, tahun tahun berikutnya, saya mencoba lagi berbagai aplikasi beasiswa, course atau apapun.. dengan modal semangat dan sebagai impian untuk bisa selalu positif… Sebagai pegawai negeri di pelosok, hanya beasiswa yang akan mewujudkan impian ini, kalau nabung mending buat nasik haji hehhe..

Tahun 2011 pernah coba aplikasi magang di Jepang Bappenas. Alhamdulillah ga lolos hahha.. susah bingit yg satu ini.. lalu tak lama setelah informasi ga lolos, Alhamdulillah saya hamil.. Tahun 2012 melahirkan.. gak coba aplikasi apapun.. Tahun 2013, juga masih menyusui Bariq.. menahan diri ga coba coba.. Tahun 2014 coba lagi short course ke Belanda.. ga lolos hahha dan juga coba magang di Jepang bappenas .. Cuma sampai wawancara by phone saya ga lolos juga wkkwkw ..

Gak boleh menyeraah hahah Tahun 2015 rasanya coba short course ke Belanda lagi karena ngotot pengen pulkam, isi aplikasi bareng ama teman baik di Jakarta sana biar bisa barengan jalan jalan *hahahha niat udah salah*.. dan eng ing eng.. ga lolos lagi wkwkw… Tahun ini saya dapat kesempatan ikut Pre Departure Program for PhD Kerjasama Deakin-Unand… sayang saya ga lolos juga ujian akhir *english academic ternyata saya harus banyak belajar lagi wkwkkwkw.. gapapa.. belum rejeki hehhe.. walau bisa ikut ujian lagi di batch selanjutnya sampai sekarang saya belum ambil kesempatan itu.. karena anggukan setuju dari si Bapak sebelah masih berat untuk yg satu ini.. ya sudah..  go on to the next dream hehehe

Tahun 2015 ini saya juga baca informasi tentang YSEALI Professional Fellow Program, dari sebuah page FB tentang Scholarship Opportunity. Entah kenapa isian aplikasi tahun 2015 ini tidak saya selesaikan, apa karena bingung nyari referee, atau bingung mau isi apa.. seingat saya Tahun 2015 memang awal mula tahun yang  agak berat di Kantor karena satu dua orang , entah apakah mulai bosan kah ? Haha *jangan serius bacanya..agak lebay saya nulis ini * Saya juga sudah galau, mulai bolak balik Padang-Solok lagi dan akhirnya mulai urus administrasi pindah.

Ajaibnya, Tahun 2016, karena pernah isi aplikasi Tahun 2015, saya dikirimkan email oleh pengelola program ini untuk mencoba lagi aplikasi YSEALI Tahun 2016 lalu. Secara kebetulan saat masa masa itu, saya melihat postingan FB dari teman saya Uni Dona di Kalimantan sana yang lagi di Amerika untuk program sejenis #YSEALI, namun beda tema dengan aplikasi yang pernah saya isi tahun 2015. Saya pun makin penasaran, harusnya coba aja ya.. ga susah juga Cuma isian online.. lihat foto foto Uni Dona jadi penasaran terus hahaha… Bismillah, setelah draft isian sana sini, lalu persis di hari terakhir deadline menjelang satu jam sebelum tutup *drama banget pokoknya hahaha*, aplikasi ini saya kirim … padahal masih deg-degan karena salah sau referee terbaca belum menjawab email untuk isian  reference form nya.. Untuk aplikasi ini diminta dua referee, saya mengajukan dua nama, satu Ibu Des, yang bulan November lalu saat aplikasi ini diisi baru dilantik jadi Sekretaris Bappeda , Ibu ini termasuk mengerti impian impian saya karena sebelumnya sama sama Perencana dan pernah juga mencicipi course 6 Bulan ke Adelaide, Australia Tahun 2005. Secara berseloroh saya sampaikan, “sudah mencoba setiap tahun tidak pernah lolos bu, tapi tiap ada kesempatan saya pengen coba karena jadi semangat untuk positif”. Dan si Ibuk Des malah jawab, “siapa tahu saat ibuk yang kasih rekomendasi lolos ria”.  woww luar biasa ya .. saya anggap doa tulus dari beliau. Untuk Referee kedua saya minta bantuan Prof Helmi, dosen saya di Unand dulu dan kebetulan beliau sering ke Solok untuk berbagai project dan pengabdian masyarakat. Saya super salut sama Pak Helmi yang selalu positif , penuh semangat dan memotivasi untuk maju. Beliau langsung menyanggupi, namun awalnya sampai saat saya sent aplikasi saya sejam sebelum deadline, saya lihat beliau belum merespon form reference nya.. makanya saya sempat hopeless dan nyaris lupa dengan impian saya. Oh ya tahun ini saya juga coba lagi course ke Belanda, dapat admission dua kampus tapi lagi lagi gagal di beasiswa.

Saya nyaris lupa soal aplikasi ini itu, sampai pada satu kesempatan ketemu Prof Helmi lagi dan secara mengejutkan beliau bilang isian rekomendasi untuk saya sudah beliau kirimkan, karena ada extended batas akhir sampai 1 Desember 2016. Waaah.. saya tak menyangka loo.. ternyata isian form saya jadi lengkap ..

Pertengahan Desember 2016 secara mengejutkan saya dapat email kalau lolos aplikasi awal dan eassay, dan diminta mempersiapkan wawancara by skype pada 13 Desember 2016. Wooowww.. antara senang dan deg-degan lagii… saya terakhir wawancara bahasa inggris ya saat magang Bappenas yg gagal tahun 2014 itu, yang wawancara orang Indoensia sih hehehhe.. nah ini by skype lagi yang saya gak pernah pake .. dan tahukan itu jadwal adalah jadwal padat dimana itu long weekend dan aktivitas saya di AIMI sedang di puncaknya melalui Pelatihan Konseling Menyusui yang pertama kami helat kala itu.. di sela kehectican, saya kabur ke ruang rapat di kantor yang sepi dan melakukan wawancara seingat saya sekitar 20 menit.. alhamdulillah, saya pikir kok terlalu lancar… sata jadi pesimis.. pertanyaannya apa ga menjebak ya.. jawabannya sudah diprediksi, hanya masalah bahasa dan logat bicara englist saya yg saya ragu ahahhahahah *Minang Engslih laaah*.. lagi lagi Pak Helmi yang baik meyakinkan saya pada suatu kesempatan, dengan gaya bicara nya yang khas membesarkan hati saya “ambo yakin ria lolos” kira kira begitu disampaikannya..

oh ya sehari sebelum wawancara saya latihan wawancara dam speaking english dengan seorang teman, ya itu.. mahasiswi keren mentor bahasa jepang saya diatas tadi, yang sekarang jd staff di Pusat Bahasa Unand…

Setelah wawancara, mereka bilang akan mengabarkan awla februari.. namun tak perlu menunggu awal februari, pertengaan Januari tepatnya tanggal 20, saya membuka email di pagi hari dan membaca informasi kalau saya LOLOS untuk program YSEALI PFP dan berkesempatan 6 Minggu di Amerika! Alhamdulillah..  saya saking gak percaya sampai meluk meluk dan kegirangan loncat loncat depan Bapak Bariq…  hahahha ini salah satu kabar terbaik dalam beberapa bulan terakhir karena berbagai hal yang bikin baper *hahah mulai dramaa*..

Sejak saat itu , saya makin percaya kalau selalu ada jawaban untuk setiap kerja keras dan impian kita… mungkin tidak seperti yang kita duga, tapi Allah selalu akan memberikan hal hal yang indah pada waktunya.. Doakan ya semua persiapan lancar dan bisa berangkat sesuai jadwal.. bermanfaat untuk pembangunan negeri ini juga… tunggu cerita saya selanjutnya tentang #YSEALI ini..

 

Bismillah, siap siap untuk musim semi di Amerika!

capitol_springtime

Yang penasaran tentang YSEALI bisa ke link ini..

https://id.usembassy.gov/education-culture/yseali/yseali-professional-fellows/

untuk tema yang saya lolos bisa langsung ke sini .. lagi buka lo aplikasinya.. http://professionalfellows.americancouncils.org/?q=node/11

 

Gizi Terbaik Anak Berawal dari Rumah

 

Tulisan ini dimuat di kolom “Komentar” Harian Umum Singgalang, 25 januari 2017, Halaman 1.

Setiap tahun di Indonesia pentingnya gizi diperingati pada tanggal 25 Januari. Peringatan ini ditujukan sebagai sarana mengkampanyekan dan mensosialisasikan tentang pentingnya pemenuhan gizi seimbang yang dikonsumsi  masyarakat Indonesia dari bayi sampai dewasa dan lanjut usia. Hal ini menjadi momentum sangat penting mengingat kondisi faktual permasalahan gizi di Indonesia masih sangat banyak, terutama sejak masih bayi lahir, anak anak dan saat beranjak dewasa. Ternyata pemenuhan gizi  sangatlah penting, dan ternyata cukup berawal dari rumah saja, dari meja makan keluarga.

Fakta dan Data Masalah Gizi Bayi 

Menurut data yang dirilis Tahun 2015 oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bahwa berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukan di Indonesia masih terdapat balita gizi buruk dan gizi kurang sebesar 19,6 %, dan cukup tinggi jika dibandingkan dengan target kementerian kesehatan sebesar  15 % pada Tahun 2014. Sedangkan di Sumatera Barat, Data Riskesdas 2013 menyebutkan terdapat sebanyak 21,2 % balita dengan gizi buruk dan gizi kurang dengan perkiraan jumlah  mencapai 110.864 balita. Namun data ini memiliki selisih cukup besar jika dibandingkan dengan Laporan  Jumlah Gizi Buruk dan Kurang yang terdapat dalam Komunikasi Data Gizi dan KIA Terintegrasi 2013, yakni di Sumatera Barat  hanya 217 balita dengan Gizi Buruk dan Gizi Kurang. Sehingga dari data yang disajikan Pusdatin ini diperkirakan di Sumatera Barat masih terdapat 110.647 balita dengan gizi buruk dan kurang yang belum terdekteksi. Masih berdasarkan data Pusdatin 2015, salah satu upaya untuk menjaring balita dengan gizi buruk dan gizi kurang adalah melalui penimbangan rutin di posyandu. Dari data yang dilaporkan,  untuk Sumatera Barat diperkirakan Pada Tahun 2013 jumlah balita mencapai 522.904 balita, sedangkan jumlah balita yang ditimbang (melalui posyandu) sebesar 315.557 balitam sehingga terdapat selisih sebesar 207.385 balita. Selisih tersebut merupakan jumlah balita di Sumatera Barat yang tidak ditimbang dan kemungkinan menjadi balita yang tidak terdeteksi mengalami gizi buruk atau gizi kurang yang tidak terdeteksi/tersenmbunyi.

Permasalahan lain terkait gizi adalah Balita Pendek (childhood stunting). Banyak pihak yang belum memahami bahwa tubuh pendek pada masa anak anak merupakan akibat kekurangan gizi kronis dan kegagalan pertumbuhan dimasa lalu. Stunting sendiri telah digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak. Sehubungan dengan itu, data Riskesdas Tahun 2013 tampak memperlihatkan bahwa persentasa balita sangat pendek dan pendek di Indonesia masih sangat tinggi mencapai 37,3 %. Perlu dipahami bahwa terjadinya tubuh pendek merupakan siklus kumulatif yang terjadi sejak masa kehamilan, masa bayi, kanan kanak dan sepanjang siklus kehidupan terkait asupan gizi yang diperoleh.

Indikator lain terkait status gizi pada bayi adalah cakupan pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif 0-6 bulan. ASI ekslusif berarti bahwa bayi hanya diberikan ASI saja tanpa asupan dan tambahan cairan prelaktal lain ternmasuk air putih. Hal ini dimaksudkan karena pada awal kehidupan bayi masih sangat memerlukan ASI yang mengandung semua gizi yang diperlukan serta paling sesuai dengan kebutuhan bayi. Menurut data Pusdatin 2015 bahwa angka pemberian ASI Eksklusif di Indonesia pada Tahun 2013 sebesar 54,3 %. Sedangkan Sumatera Barat berada pada posisi 68,9 %, yaitu di peringkat 6 teratas dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Walau capaian ini terlihat baik, tetapi masih dibawah angka yang diharapkan. Kementerian Kesehatan Tahun 2013 mematok target  sebesar 75 % untuk cakupan pemberian ASI Eksklusif 0-6 Bulan, dan  masih sangat jauh dari target nasional untuk Tahun 2015 yaitu sebesar 80 %.

Lantas, bagaimana upaya yang dapat kita upayakan untuk dapat menggerakkan capaian angka-angka pada indikator diatas sesuai harapan, sehingga target akhir terpenuhinya gizi masyarakat sejak bayi di masa emasnya? Jawabannya adalah dengan dengan mengupayakan pemenuhan Standar Emas Makanan Bayi. Dan itu semua bisa dilakukan “dari rumah” saja dengan peran besar Orang Tua dan Keluarga untuk mensukseskannya. Tak perlu biaya mahal!

Pemenuhan Gizi Awal Anak dengan Standar Emas Makanan Bayi

Menurut dr. Utami Roesli, Sp.A, FABM, IBCLC, sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Tahun 2002, terdapat 4 (empat) tahapan/proses yang harus terpenuhi bagi seluruh bati yang disebut Standar Emas Makanan Bayi (Golden Standard of Infant Feeding). Ke empat proses itu mencakup, inisiasi menyusu dini (IMD), ASI Ekslusif 6 Bulan, Makanan Pendamping ASI (MPASI) berkualitas setelah 6 bulan, dan menyusui/ASI diteruskan sampai minimal 2 tahun.

Pertama, inisiasi menyusu dini . IMD adalah proses kontak kulit antara ibu dan bayi segera setelah bayi lahir minimal selama 60 menit. Proses ini dilakukan untuk dapat memulai segera proses menyusui sehingga bayi mendapatkan cairan emas bernama  kolostrum. Kolostrum mengandung antibodi, sel darah putih, asam lemak tak jenuh, protein, vitamin K dan A serta laksatif/pencahar, yang keseluruhannya sangat dibutuhkan bayi untuk memenuhi gizinya dan melindungi dari berbagai penyakit.  Disamping itu sebuah penelitian oleh Edmond K., et al (2006) menemukan bahwa kesempatan menyusu dalam 1 jam pertama setelah kelahiran dapat mencegah 22% kematian bayi baru lahir.

Kedua, ASI Eklusif selama 6 bulan. ASI merupakan sumber nutrisi dan kalori dan selama usuia 0-6 bulan memenuhi 100 % kebutuhan bayi. Kandungan dalam asi berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air, garam dan gula sudah dalam takaran yang tepat. ASI Eksklusif juga merupakan perlindungan optimal bagi bayi dimana setiap tetes ASI mengandung ± 1 juta sel darah putih (leukosit) yang membasmi kuman dan melindungi dari berbagai penyakit infeksi.

Ketiga, MPASI berkualitas sejak berumur 6 bulan. Bayi memerlukan makanan pendamping untuk memeuhi nutrisi dan gizi setelah menginjak usia 180 hari. WHO merekomendasikan pemberian MPASI yang bersumber makanan keluarga/lokal. Apa yang dikonsumsi oleh keluarga dan  masyarakat lokal, maka jenis makanan yang sama juga dikenalkan pada bayi. MPASI berkualitas disini dimaksudkan adalah memenuhi Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang direkomendasikan setelah dihapuskannya pedoman 4 sehat 5 sempurna. Dengan menyajikan menu MPASI yang memenuhi PGS maka seluruh kebutuhan gizi pada anak pasca 6 bulan akan terpenuhi. PGS dimaksud  adalah menyajikan makanan yang memenuhi sumber gizi yaitu sumber kalori (karbohidrat), protein hewani, protein nabati, serta sayuran dan buah. Terhadap rekomendasi ini, mengkonsumsi makanan instan/pabrikan untuk bayi sangat tidak dianjurkan. Apalagi itu hanya akan menambah biaya, dan pastinya bukan buatan rumah yang bukan jenis sumber makanan alami lokal yang biasa di kaman keluarga. Semakin segar, semain dekat proses mendapatkannya dan diolah dengan tangan dan cinta ibu di rumah, akan  sangat baik sebagai makanan pemdamping pertama yang luar biasa dan sesuai dengan kebutuhan bayi.

Keempat, meneruskan ASI/Menyusui sampai berusia minimal 2 (dua) tahun. Sesuai rekomendasi WHO ini maka anak diatas usia 1 (satu) tahun masih harus terus diberikan ASI., Dimana, ASI masih memenuhi kebutuhan 30 % , 43 % protein, 46 % kalsium, 75 % vitamin A, 76 % asam folat, 94 %  vitamin B12 dan 60 % vitamin C. Kemudian,  kandungan antibodi serta faktor-faktor imunitas dalam ASI meningkat pada tahun ke-2 sehingga  anak yang disapih setelah usia 2 tahun akan lebih jarang sakit.

Maka, berdasarkan uraian diatas upaya untuk memenuhi standar emas makanan bayi adalah sebuah langkah konkrit yang dapat kita bersama lakukan dalam rangka menciptakan benteng awal pencegahan meningkatnya gizi buruk dan gizi kurang, serta mengatasi berbagai permasalahan gizi lainnya di Indonesia sejak awal kehidupan. Kesuksesan implementasi standar emas makanan bayi ini juga akan dapat meningkatkan kualitas generasi penerus kita. Karena bayi yang sehat dan terpenuhi gizi nya akan menjadi generasi masa depan yang cerdas dan sehat. Tidak perlu mahal mahal, hanya perlu informasi yang benar agar orang tua dapat memberikan semua ini sedari awal, dari rumah dan dengan dukungan penuh keluarga saja. Tidak perlu repot membeli bahan dan suplemen khusus ini itu bukan? Tunggu apalagi, mari sosialisasikan dan edukasi sekitar tentang standar emas makanan bayi untuk pemenuhan gizi terbaik anak, berawal dari rumah saja! Dari lingkungan keluarga!

Mari bersama kita penuhi hak anak anak Indonesia dengan kecukupan gizi dari sejak lahir melalui pemenuhan standar emas makanan bayi. Selamat Hari Gizi Nasional 2017!

hgn-aimi-sumbar.jpeg